Download App
Home
Information

Vouchers & Discounts

Events and Activities

Knowledge Hub

About Us

About Millway

Benefits of Becoming a Member

FAQ

Contact Us

Privacy Policy

Doctor's Assistance

Doctor's Appointment

Ask a Doctor

Products
Villa & Apt.
Ticket
Partners
Akun Ku
Login
Register
Stress Relief

Gugup Bikin Tiba-Tiba Ingin BAB? Ternyata Ini Penyebabnya

Write by Millway Wellness Team • 14 Aug 2026 (Friday.)

Pernah tiba-tiba ingin buang air besar (BAB) sebelum presentasi, wawancara kerja, ujian, atau ketika sedang menghadapi situasi yang membuat gugup? Kondisi ini ternyata bukan sekadar kebetulan.

Dorongan BAB yang muncul saat seseorang merasa gugup, takut, atau stres sering disebut nervous poop. Istilah ini bukan diagnosis medis, melainkan gambaran respons sistem pencernaan terhadap stres dan kecemasan.

Hal ini dapat terjadi karena otak dan sistem pencernaan saling berkomunikasi. Ketika kondisi emosional berubah, kerja saluran pencernaan pun dapat ikut terpengaruh.

Kenapa Gugup Bisa Bikin Ingin BAB?

Otak dan saluran pencernaan terhubung melalui sistem komunikasi yang dikenal sebagai gut-brain axis. Hubungan inilah yang membuat kondisi emosional seperti stres dan kecemasan dapat menimbulkan gejala fisik pada sistem pencernaan.

Ketika menghadapi situasi yang dianggap menegangkan, tubuh dapat mengaktifkan respons fight-or-flight. Tubuh kemudian melepaskan hormon stres dan mengubah berbagai fungsi tubuh untuk menghadapi situasi tersebut.

Perubahan ini juga dapat memengaruhi saluran pencernaan. Aktivitas lambung dan usus kecil dapat melambat, sementara kontraksi pada usus besar dapat meningkat. Akibatnya, sebagian orang mengalami kram perut, rasa mulas, hingga keinginan BAB yang datang secara mendadak.

Seperti Apa Gejalanya?

Nervous poop umumnya ditandai dengan dorongan BAB yang muncul ketika seseorang merasa gugup, stres, takut, atau kewalahan secara emosional.

Beberapa keluhan yang dapat menyertainya antara lain:

  • Mulas atau kram pada perut.
  • Keinginan BAB yang terasa mendesak.
  • BAB beberapa kali dalam waktu berdekatan.
  • Feses menjadi lebih lunak atau berair.
  • Perut terasa bergejolak atau berbunyi.
  • Sensasi seperti “kupu-kupu” di dalam perut.

Setiap orang dapat mengalami respons pencernaan yang berbeda. Ada yang hanya merasa mulas ringan, tetapi ada pula yang mengalami diare ketika tingkat stres meningkat.

Usus Punya Hubungan Erat dengan Sistem Saraf

Saluran pencernaan memiliki jaringan saraf yang disebut enteric nervous system (ENS). Sistem ini terdiri dari jutaan sel saraf yang membantu mengatur berbagai proses pencernaan.

Pada sebagian orang, sistem ini mungkin lebih sensitif terhadap sinyal stres yang berasal dari otak. Akibatnya, bahkan rasa gugup yang relatif ringan dapat memicu perubahan gerakan usus dan membuat feses bergerak lebih cepat menuju usus besar.

Inilah salah satu alasan mengapa respons pencernaan terhadap stres bisa berbeda antara satu orang dan lainnya.

Bagaimana dengan Orang yang Memiliki IBS?

Irritable bowel syndrome (IBS) atau sindrom iritasi usus besar merupakan gangguan pencernaan yang dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap perubahan pada saluran pencernaan.

Pada sebagian orang dengan IBS, stres dan kecemasan dapat memperburuk gejala. Situasi yang menegangkan dapat membuat BAB menjadi lebih sering atau terasa lebih mendesak.

Namun, sering ingin BAB ketika gugup tidak otomatis berarti seseorang memiliki IBS. Diagnosis kondisi pencernaan tetap perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan berdasarkan gejala dan pemeriksaan yang sesuai.

Apa yang Bisa Dilakukan Saat Perut Bereaksi karena Gugup?

Jika keluhan berkaitan dengan stres atau kecemasan, membantu tubuh menjadi lebih rileks dapat membantu mengurangi respons yang muncul pada sistem pencernaan.

Beberapa kebiasaan yang dapat dicoba antara lain:

  • Melakukan latihan pernapasan dalam secara perlahan.
  • Mencoba meditasi atau latihan mindfulness.
  • Melakukan aktivitas fisik secara rutin untuk membantu mengelola stres.
  • Mencukupi kebutuhan cairan, terutama jika mengalami diare.
  • Membatasi kafein dan alkohol jika keduanya membuat keluhan semakin berat.
  • Mencatat makanan, situasi, dan tingkat stres untuk mengenali pola pemicu.

Jika kamu tahu akan menghadapi situasi yang membuat gugup, memperhatikan makanan dan minuman sebelumnya juga dapat membantu. Beberapa orang lebih nyaman memilih makanan yang sederhana dan tidak terlalu membebani pencernaan.

Kapan Perlu Memeriksakan Diri?

Keinginan BAB akibat gugup umumnya bersifat sementara. Namun, jangan langsung menganggap semua perubahan BAB disebabkan oleh stres.

Sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan apabila kamu mengalami:

  • Diare atau perubahan pola BAB yang sering terjadi.
  • Keluhan yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Nyeri perut yang berat.
  • Demam.
  • BAB berdarah atau berwarna hitam seperti aspal.
  • Penurunan berat badan tanpa disengaja.

Tenaga kesehatan dapat membantu memastikan apakah keluhan berkaitan dengan stres atau terdapat kondisi pencernaan lain yang perlu ditangani.

Jadi, Gugup Bikin Ingin BAB Itu Nyata?

Ya. Kondisi emosional dan pencernaan memiliki hubungan yang erat melalui komunikasi antara otak, sistem saraf, dan saluran pencernaan. Saat tubuh merespons stres, perubahan aktivitas pada usus dapat membuat sebagian orang merasa mulas atau tiba-tiba ingin BAB.

Mengenali pemicu dan belajar mengelola stres dapat membantu mengurangi keluhan. Namun, jika perubahan pola BAB terjadi terus-menerus atau disertai gejala yang tidak biasa, pemeriksaan lebih lanjut tetap diperlukan.

Mulai kenali bagaimana tubuhmu merespons stres dan bangun kebiasaan yang mendukung kesehatan fisik maupun emosional dalam perjalanan Unlock Your Best Life bersama Millway.

Sumber: Lindsay Curtis. Yes, Nervous Pooping Is an Actual Thing—Here’s Why It Happens, and What You Can Do. Health, diperbarui 16 Januari 2026.

Read Also

Shopping Cart