Musik sering menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada yang mendengarkannya untuk menemani bekerja, berolahraga, beristirahat, atau sekadar membantu memperbaiki suasana hati.
Namun, menggunakan musik untuk merasa lebih baik tidak selalu sama dengan music therapy atau terapi musik. Terapi musik merupakan pendekatan profesional yang menggunakan musik secara terstruktur untuk membantu mencapai tujuan kesehatan tertentu.
Menurut American Music Therapy Association (AMTA), terapi musik adalah penggunaan intervensi musik secara klinis dan berbasis bukti untuk mencapai tujuan individual dalam hubungan terapeutik bersama tenaga profesional yang memiliki kredensial dan telah menyelesaikan program terapi musik yang sesuai.
Artinya, terapi musik bukan sekadar memutar lagu favorit ketika sedang stres. Dalam terapi musik, musik digunakan sebagai bagian dari proses terapi yang disesuaikan dengan kondisi, tantangan, dan tujuan masing-masing individu.
Musik melibatkan banyak bagian otak sekaligus. Mendengarkan musik yang menyenangkan diketahui dapat merangsang pelepasan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa senang dan sistem penghargaan di otak.
Musik juga dikaitkan dengan neuroplasticity, yaitu kemampuan otak untuk membentuk dan mengatur kembali koneksi saraf. Aktivitas seperti mendengarkan, bernyanyi, membaca musik, memainkan alat musik, atau bergerak mengikuti irama dapat melibatkan berbagai area otak secara bersamaan.
“Musik menciptakan sinyal yang jelas bagi otak untuk memproses dan memahami informasi,” ujar Mia Krings, terapis musik bersertifikat, seperti diberitakan dalam artikel Everyday Health.
Ada beberapa cara musik digunakan dalam konteks kesehatan dan kesejahteraan, dan ketiganya memiliki perbedaan:
Dalam satu sesi terapi musik, pendekatan yang digunakan dapat berbeda sesuai kebutuhan. Beberapa bentuk intervensi yang umum digunakan antara lain:
Salah satu manfaat yang banyak dipelajari dari terapi musik adalah potensinya untuk membantu mengurangi gejala stres.
Musik dapat digunakan untuk membantu tubuh lebih rileks, memperbaiki suasana hati, dan memberikan ruang untuk mengekspresikan emosi.
Pada beberapa orang, manfaat pengelolaan stres dapat menjadi lebih optimal ketika terapi dilakukan bersama profesional yang menyesuaikan jenis musik dengan tantangan dan preferensi individu.
Musik memiliki hubungan yang kuat dengan memori dan emosi. Lagu tertentu dapat memunculkan kembali pengalaman, perasaan, atau ingatan yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung.
“Kita dapat menggunakan musik untuk masuk lebih dalam ke kesadaran dan membawa perhatian kembali pada kondisi saat ini,” ujar Kristen Stewart, terapis musik bersertifikat, seperti diberitakan dalam artikel Everyday Health.
Dalam konteks terapi, pengalaman emosional tersebut dapat dieksplorasi secara lebih terarah bersama profesional.
Terapi musik juga telah digunakan dalam perawatan orang dengan demensia. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa terapi musik berpotensi membantu mengurangi gejala seperti kecemasan dan depresi.
Karena musik sangat berkaitan dengan memori dan dapat mengaktifkan banyak bagian otak, terapi musik juga dipertimbangkan sebagai pendekatan pendamping dalam perawatan kondisi yang memengaruhi fungsi kognitif.
Di lingkungan rumah sakit, terapi musik juga digunakan untuk membantu mengelola beberapa gejala pada pasien dengan kondisi medis tertentu.
Sebuah penelitian terhadap lebih dari 1.100 pasien dengan kondisi onkologi dan gangguan darah menemukan bahwa sesi terapi musik selama 30 menit dikaitkan dengan penurunan rasa nyeri, kecemasan, dan kelelahan setelah sesi, sekaligus peningkatan rasa nyaman dan rasa syukur.
Namun, terapi musik tetap merupakan terapi pendamping dan tidak menggantikan penanganan medis utama.
Terapi musik juga digunakan dalam rehabilitasi setelah stroke maupun pada beberapa gangguan neurologis.
Penelitian menunjukkan potensi manfaat terhadap kemampuan berbicara, menelan, fungsi motorik, perhatian, suasana hati, serta kualitas hidup.
Pada kondisi neurologis tertentu seperti Parkinson, multiple sclerosis, atau cedera tulang belakang, aktivitas musik seperti bernyanyi atau memainkan instrumen juga telah diteliti karena potensinya dalam mendukung fungsi pernapasan dan gerak.
Tidak. Seseorang tidak harus memiliki kemampuan bermusik, memahami teori musik, atau pandai bernyanyi untuk mengikuti terapi musik.
Pendekatan akan disesuaikan dengan tujuan dan kenyamanan masing-masing individu. Bahkan aktivitas sederhana seperti mendengarkan musik, mengetuk irama, atau mencoba instrumen dapat menjadi bagian dari terapi.
“Hampir semua orang memiliki hubungan dengan musik. Kamu tidak perlu menjadi musisi ahli untuk menikmatinya,” ujar Stewart dalam artikel Everyday Health.
Secara umum, terapi musik dianggap aman. Namun, musik juga memiliki hubungan kuat dengan ingatan dan pengalaman emosional.
Lagu atau suara tertentu dapat memunculkan kembali kenangan yang tidak menyenangkan. Hal ini perlu diperhatikan terutama bagi seseorang dengan riwayat trauma, depresi, atau post-traumatic stress disorder (PTSD).
Karena itu, penggunaan musik untuk tujuan terapeutik sebaiknya dilakukan bersama tenaga profesional yang memahami kondisi dan riwayat masing-masing individu.
Mendengarkan lagu favorit memang dapat membantu memperbaiki suasana hati, meningkatkan motivasi, atau membuat tubuh terasa lebih rileks. Namun, aktivitas tersebut belum tentu dapat disebut terapi musik.
Terapi musik merupakan pendekatan klinis yang memiliki tujuan khusus, dilakukan secara terstruktur, dan dipandu oleh terapis musik yang memiliki kualifikasi sesuai.
Sobat Millway, musik dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mengenali emosi, mengelola stres, dan mendukung kesejahteraan. Temukan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhanmu dan gunakan musik secara sehat sebagai bagian dari perjalanan Unlock Your Best Life.
Sumber: Jessica Migala. What Is Music Therapy? A Detailed Scientific Guide for Beginners. Everyday Health, diterbitkan 9 Februari 2023 dan ditinjau secara medis oleh Justin Laube, MD; American Music Therapy Association (AMTA).