Dua orang bisa makan nasi dan lauk yang sama, tetapi respons gula darah setelah makan belum tentu identik. Pada satu orang, kenaikannya mungkin lebih tinggi. Pada orang lain, responsnya bisa lebih stabil.
Hal ini terjadi karena respons gula darah tidak hanya ditentukan oleh satu jenis makanan. Karakteristik tubuh, pola makan, aktivitas fisik, hingga kondisi kesehatan ikut memengaruhi bagaimana tubuh mengolah glukosa setelah makan.
Karena itu, melihat satu makanan sebagai satu-satunya penyebab naiknya gula darah sering kali terlalu sederhana. Yang lebih penting adalah melihat pola makan dan kondisi tubuh secara keseluruhan.
Karbohidrat dari makanan akan dicerna menjadi glukosa, kemudian masuk ke aliran darah untuk digunakan sebagai sumber energi. Setelah makan, kadar gula darah secara alami akan meningkat dan kemudian kembali menurun dengan bantuan hormon insulin.
Respons ini dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk berapa banyak karbohidrat yang dikonsumsi, jenis makanannya, kandungan protein, lemak, dan serat, serta kondisi metabolisme masing-masing individu.
Itulah sebabnya makanan dengan komposisi yang tampak serupa belum tentu menghasilkan respons gula darah yang sama pada setiap orang.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa naik turunnya kadar glukosa darah dapat berkaitan dengan berbagai faktor karakteristik individu dan gaya hidup.
Dalam pengaturan makan, terutama untuk membantu menjaga kadar gula darah, dikenal prinsip 3J: Jadwal, Jumlah, dan Jenis.
Ketiganya saling berkaitan. Memilih makanan yang dianggap “sehat” belum tentu cukup jika porsinya terlalu besar atau jadwal makan sangat tidak teratur.
Respons gula darah bukan hanya soal nasi, roti, atau makanan manis. Cara makanan dikombinasikan juga berperan.
Misalnya, mengonsumsi sumber karbohidrat bersama protein, sayuran, dan sumber serat dapat membuat komposisi makan menjadi lebih seimbang. Serat membantu memperlambat proses pencernaan, sedangkan protein dan lemak juga dapat memengaruhi kecepatan makanan meninggalkan lambung.
Karena itu, daripada hanya berfokus pada satu jenis makanan, lebih baik melihat bagaimana komposisi satu piring disusun secara keseluruhan.
Aktivitas fisik juga memiliki peran penting dalam pengelolaan gula darah. Saat otot bekerja, tubuh menggunakan glukosa sebagai salah satu sumber energi.
Kebiasaan sederhana seperti berjalan ringan setelah makan dapat menjadi salah satu cara untuk tetap aktif, dibandingkan langsung duduk dalam waktu lama.
Tidak harus berupa olahraga berat. Yang lebih penting adalah menjaga tubuh tetap bergerak secara konsisten sesuai kemampuan masing-masing.
Melihat orang lain bisa makan makanan tertentu tanpa merasa ada masalah bukan berarti tubuh kita akan memberikan respons yang sama.
Usia, aktivitas, riwayat keluarga, komposisi tubuh, pola tidur, hingga kondisi kesehatan dapat membuat respons setiap orang berbeda.
Karena itu, pendekatan yang lebih baik adalah mengenali pola tubuh sendiri dan memperhatikan bagaimana kebiasaan makan dilakukan secara konsisten dari hari ke hari.
Menjaga gula darah bukan berarti harus menghilangkan karbohidrat sepenuhnya. Tubuh tetap membutuhkan karbohidrat sebagai salah satu sumber energi utama.
Yang lebih penting adalah memperhatikan porsi, memilih jenis makanan yang lebih baik, menambahkan protein dan serat, menjaga jadwal makan, serta tetap aktif bergerak.
Bagi Millway, memahami respons tubuh adalah bagian dari membangun kebiasaan yang lebih sehat. Bukan hanya tentang apa yang kita makan, tetapi juga berapa banyak, kapan kita makan, bagaimana kombinasinya, dan bagaimana gaya hidup dijalani secara keseluruhan.
Sumber: Jambura Journal of Health Sciences and Research; penelitian “Hubungan Pola Makan Karbohidrat, Protein, Lemak dengan Diabetes Mellitus pada Lansia”.