Bawang putih mungkin lebih sering dikenal sebagai bumbu dapur. Namun, di balik aroma dan rasanya yang khas, bawang putih juga mengandung berbagai senyawa aktif yang sejak lama diteliti karena potensinya terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Salah satu yang paling banyak mendapat perhatian adalah allicin, senyawa sulfur yang terbentuk ketika bawang putih dipotong, dicincang, atau dihancurkan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi bawang putih atau ekstraknya berpotensi membantu menurunkan tekanan darah pada sebagian orang dengan hipertensi.
Meski begitu, bawang putih bukan pengganti obat antihipertensi maupun pemeriksaan medis. Manfaatnya lebih tepat dilihat sebagai bagian dari pola makan dan gaya hidup sehat yang mendukung pengelolaan tekanan darah.
Allicin merupakan salah satu senyawa aktif yang terbentuk ketika struktur bawang putih mengalami kerusakan, misalnya saat dipotong atau dihancurkan.
Dalam bawang putih utuh terdapat senyawa bernama alliin dan enzim alliinase. Ketika bawang putih dihancurkan, keduanya bereaksi dan menghasilkan allicin.
Selain allicin, bawang putih juga mengandung berbagai senyawa sulfur lain, asam amino, serta sejumlah mineral seperti selenium. Kombinasi senyawa inilah yang membuat bawang putih banyak dipelajari dalam kaitannya dengan kesehatan kardiovaskular.
Tekanan darah dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kekuatan pompa jantung dan seberapa lebar atau sempit pembuluh darah.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa sulfur dalam bawang putih dapat membantu proses pelebaran pembuluh darah atau vasodilatasi. Ketika pembuluh darah lebih rileks, aliran darah menjadi lebih mudah sehingga tekanan pada dinding pembuluh dapat berkurang.
Penelitian juga mengaitkan ekstrak bawang putih dengan pengaruh terhadap sistem angiotensin-converting enzyme atau ACE, salah satu sistem tubuh yang berperan dalam pengaturan tekanan darah.
Namun, besar efeknya dapat berbeda pada setiap orang tergantung kondisi kesehatan, jenis sediaan bawang putih, dosis, lama konsumsi, serta terapi lain yang sedang digunakan.
Sejumlah penelitian dan uji klinis menunjukkan adanya penurunan tekanan darah setelah konsumsi ekstrak bawang putih pada orang dengan hipertensi. Beberapa publikasi bahkan menemukan efek yang cukup bermakna, terutama pada orang yang sejak awal memiliki tekanan darah tinggi.
Namun, hasil penelitian tidak berarti semua orang dengan hipertensi cukup mengonsumsi bawang putih untuk mengendalikan tekanan darah.
Hipertensi merupakan kondisi yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari faktor genetik, usia, konsumsi garam, berat badan, aktivitas fisik, stres, kebiasaan merokok, hingga kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, pendekatannya juga perlu menyeluruh.
Penelitian mengenai tekanan darah cukup banyak menggunakan ekstrak bawang putih dalam dosis tertentu. Sementara dalam kehidupan sehari-hari, bawang putih lebih umum dikonsumsi sebagai bagian dari masakan.
Bawang putih segar tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Jika ingin mempertahankan pembentukan allicin, bawang putih dapat dicincang atau dihancurkan terlebih dahulu sebelum digunakan.
Namun, dosis ekstrak yang digunakan dalam penelitian tidak sebaiknya langsung diterjemahkan menjadi anjuran untuk mengonsumsi suplemen dalam jumlah tertentu tanpa pertimbangan tenaga kesehatan.
Mengonsumsi bawang putih dalam jumlah sangat banyak juga bukan berarti efeknya akan semakin besar. Pada sebagian orang, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan, rasa tidak nyaman di perut, atau bau napas yang kuat.
Bawang putih dan suplemennya juga dapat memengaruhi proses pembekuan darah. Karena itu, orang yang sedang menggunakan obat pengencer darah, akan menjalani operasi, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum menggunakan suplemen bawang putih secara rutin.
Tidak ada satu makanan yang dapat bekerja sendiri untuk mengendalikan hipertensi. Bawang putih lebih baik ditempatkan sebagai bagian dari pola makan yang lebih luas.
Bawang putih memiliki senyawa aktif yang menarik dan berpotensi mendukung kesehatan pembuluh darah. Tetapi manfaat tersebut tidak berarti obat yang diresepkan dokter boleh dihentikan atau diganti dengan bawang putih tanpa konsultasi.
Bagi Millway, menjaga tekanan darah lebih baik dilakukan melalui kebiasaan yang konsisten: pola makan seimbang, membatasi natrium, tetap aktif, mengelola stres, tidur cukup, serta mengikuti terapi medis bila memang dibutuhkan.
Bawang putih bisa menjadi salah satu bagian kecil dari pola tersebut, bukan satu-satunya solusi.
Sumber: “Peranan Allicin dari Ekstrak Bawang Putih sebagai Pengobatan Komplemen Alternatif Hipertensi Stadium I”; publikasi ilmiah mengenai Allium sativum dan tekanan darah.