Dalam beberapa waktu terakhir, flu terasa datang dengan cara yang berbeda. Gejalanya lebih berat, pemulihan terasa lebih lama, dan tubuh seolah membutuhkan energi ekstra hanya untuk kembali berfungsi normal.
Kondisi ini sering disebut sebagai “super flu”—bukan istilah medis, melainkan cara orang menggambarkan flu yang terasa lebih menguras dibanding biasanya, terutama di masa perubahan cuaca.
Super flu merujuk pada flu yang gejalanya lebih intens atau bertahan lebih lama dari flu ringan pada umumnya. Tubuh terasa sangat lelah, kepala berat, dan pemulihan tidak terjadi dalam hitungan hari.
Meski bukan kondisi baru, fenomena ini semakin sering dirasakan ketika daya tahan tubuh sedang tidak optimal.
Peralihan cuaca memaksa tubuh untuk terus beradaptasi. Perubahan suhu, kelembapan, dan kualitas udara memengaruhi sistem imun serta ritme biologis.
Ketika adaptasi ini terjadi bersamaan dengan kelelahan fisik dan mental, tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi yang terasa lebih berat.
Kurang istirahat, stres berkepanjangan, dan pola hidup yang tidak seimbang dapat memperlambat proses recovery. Tubuh bekerja keras melawan infeksi, namun tidak selalu mendapatkan dukungan yang cukup.
Akibatnya, flu yang seharusnya ringan terasa berlarut-larut.
Di Millway, pemulihan dipandang sebagai proses yang perlu dihormati, bukan dipercepat secara paksa.
Fenomena super flu mengingatkan bahwa tubuh memiliki batas adaptasinya sendiri. Dengan memberi ruang istirahat, perhatian, dan ritme yang lebih sadar, tubuh dapat kembali membangun daya tahannya secara alami dan berkelanjutan.