Unduh App
Beranda
Informasi

Voucher & Diskon

Acara & Kegiatan

Knowledge Hub

Tentang Kami

Tentang Millway

Manfaat Menjadi Member

Tanya Jawab

Hubungi Kami

Kebijakan Privasi

Bantuan Dokter

Janji Temu Dokter

Tanya Dokter

Produk
Vila & Apt.
Tiket
Mitra
Akun Ku
Masuk
Daftar

Berita

Lihat Lebih

Masih Muda, Masih Aman Merokok? Justru Kebiasaan Hari Ini Bisa Menentukan Kesehatanmu Nanti

Detox

“Masih muda, nanti juga bisa berhenti.” Kalimat seperti ini sering membuat risiko merokok terasa jauh dan tidak mendesak. Apalagi kalau tubuh masih terasa fit, masih kuat olahraga, dan belum punya keluhan kesehatan berarti.

Padahal, dampak rokok tidak selalu menunggu usia tua. Kebiasaan merokok yang dimulai sejak muda bisa menjadi paparan jangka panjang yang terus terakumulasi dan meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular atau non-communicable diseases (NCDs), termasuk penyakit paru, penyakit jantung, dan stroke.

Yang perlu dipahami, rokok bukan cuma soal “paru-paru rusak”. Dampaknya jauh lebih luas, dan bukan hanya dirasakan oleh orang yang merokok.

Kenapa Anak Muda Sering Merasa Risiko Rokok Masih Jauh?

Saat tubuh masih muda dan belum muncul gejala, seseorang bisa merasa bahwa efek rokok belum nyata. Ini membuat kebiasaan merokok terlihat seperti sesuatu yang masih bisa “dikontrol nanti”.

Masalahnya, penyakit kronis berkembang dalam jangka panjang. Paparan tembakau yang berlangsung bertahun-tahun dapat berkontribusi terhadap kerusakan pembuluh darah, paru-paru, dan sistem tubuh lain bahkan sebelum gejala terasa jelas.

Karena itu, tidak adanya keluhan hari ini bukan berarti tubuh tidak sedang terpapar risiko.

Merokok Bukan Cuma Soal Kanker Paru

World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa tembakau dapat menyebabkan berbagai penyakit tidak menular, termasuk penyakit paru, penyakit jantung, dan stroke.

Artinya, dampak rokok tidak hanya berkaitan dengan sistem pernapasan. Zat dalam asap tembakau juga dapat memengaruhi pembuluh darah dan sistem kardiovaskular.

Jadi, ketika membahas rokok, fokusnya seharusnya bukan hanya pada risiko kanker, tetapi juga bagaimana kebiasaan tersebut memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

Kalau Cuma Sesekali, Apa Tetap Berisiko?

Sebagian orang mungkin merasa merokok hanya saat nongkrong atau dalam situasi tertentu masih “aman”. Namun, paparan tembakau tetap merupakan paparan.

Selain itu, kebiasaan yang awalnya hanya dilakukan sesekali bisa berkembang menjadi pola yang semakin sering karena nikotin dapat menimbulkan ketergantungan.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya “seberapa sering kamu merokok sekarang?”, tetapi juga “apakah kebiasaan ini berpotensi menjadi sesuatu yang semakin sulit dihentikan nanti?”

Rokok Juga Berdampak pada Orang yang Tidak Merokok

Salah satu hal yang sering luput dari perhatian adalah second-hand smoke atau paparan asap rokok pada orang di sekitar.

WHO menegaskan bahwa tembakau tidak hanya membahayakan perokok aktif, tetapi juga orang yang tidak merokok melalui paparan asap rokok orang lain.

Artinya, keputusan merokok di dalam rumah, kendaraan, kamar, atau tempat berkumpul bukan hanya keputusan pribadi. Orang lain ikut terpapar, meskipun mereka tidak memilih untuk merokok.

“Tapi Banyak Orang Merokok dan Kelihatannya Sehat”

Ini salah satu alasan mengapa risiko rokok sering dianggap berlebihan. Kita mungkin mengenal seseorang yang sudah lama merokok tetapi masih terlihat sehat.

Namun, kesehatan tidak dapat dinilai hanya dari penampilan atau ada tidaknya keluhan saat ini. Risiko kesehatan bekerja secara probabilistik, bukan sebagai kepastian bahwa setiap perokok akan mengalami penyakit yang sama pada waktu yang sama.

Artinya, tidak semua perokok akan mengalami dampak dengan pola identik, tetapi paparan tembakau tetap meningkatkan risiko terhadap sejumlah kondisi kesehatan.

Memahami risiko bukan berarti menakut-nakuti. Justru, informasi ini membantu seseorang membuat keputusan dengan lebih sadar.

Berhenti Sekarang Tetap Ada Manfaatnya

Salah satu pesan penting WHO adalah bahwa tidak pernah terlambat untuk berhenti merokok.

Begitu seseorang berhenti, tubuh mulai mengalami manfaat kesehatan dalam jangka pendek dan manfaat tersebut terus berkembang dalam jangka panjang.

Jadi, walaupun sudah merokok bertahun-tahun, keputusan berhenti tetap memberikan keuntungan dibandingkan melanjutkan kebiasaan tersebut.

Berhenti Merokok Bukan Cuma Soal “Niat Kuat”

Ketergantungan nikotin bisa membuat proses berhenti terasa sulit. Karena itu, menganggap seseorang gagal berhenti hanya karena “kurang niat” terlalu menyederhanakan masalah.

Nikotin dapat memengaruhi sistem penghargaan di otak dan menciptakan dorongan untuk mengulang konsumsi. Selain ketergantungan fisik, kebiasaan merokok juga sering terhubung dengan rutinitas tertentu seperti minum kopi, nongkrong, stres, bekerja, atau setelah makan.

Karena itu, proses berhenti dapat membutuhkan strategi, dukungan sosial, dan pada sebagian orang bantuan tenaga kesehatan.

Kalau Mau Mulai Berhenti, Harus dari Mana?

Tidak semua orang perlu memakai cara yang sama. Namun, beberapa langkah berikut bisa membantu memulai:

  • Kenali situasi yang paling sering memicu keinginan merokok.
  • Tentukan alasan pribadi kenapa ingin berhenti, bukan hanya karena diminta orang lain.
  • Kurangi akses terhadap rokok di lingkungan sehari-hari.
  • Cari alternatif saat keinginan merokok muncul, seperti berjalan, minum air, atau mengunyah permen karet.
  • Minta dukungan dari teman atau keluarga yang bisa membantu tanpa menghakimi.
  • Konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika sulit berhenti sendiri.
Kalau Belum Siap Berhenti Total?

Bagi sebagian orang, keputusan berhenti total bisa terasa berat. Namun, bukan berarti tidak ada langkah yang bisa dimulai sekarang.

Mulailah dari memahami pola merokokmu sendiri: kapan paling sering merokok, apa pemicunya, dan situasi apa yang membuat sulit menolak.

Kesadaran terhadap pola tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun strategi berhenti yang lebih realistis.

Namun, penting juga untuk memahami bahwa mengurangi jumlah rokok tidak sama dengan menghilangkan risiko sepenuhnya. Tujuan terbaik bagi kesehatan tetap berhenti menggunakan tembakau.

Kalau Kamu Tidak Merokok, Jangan Mulai

Bagi anak muda yang belum pernah merokok, keputusan untuk tidak memulai adalah salah satu bentuk perlindungan kesehatan yang paling sederhana.

Tidak merokok juga bukan soal harus menjauhi teman yang merokok. Kamu tetap bisa bersosialisasi sambil menetapkan batas terhadap paparan asap rokok dan menjaga hak untuk menghirup udara yang lebih bersih.

Jadi, Masih Muda Bukan Berarti Masih Aman

Usia muda memang memberikan tubuh kapasitas pemulihan yang lebih baik, tetapi bukan berarti kebiasaan berisiko tidak memiliki konsekuensi.

Justru, kebiasaan yang dibangun sejak muda dapat menentukan pola kesehatan dalam jangka panjang. Semakin cepat paparan tembakau dihentikan atau dihindari, semakin besar kesempatan tubuh untuk mempertahankan fungsi yang lebih baik ke depan.

Sobat Millway, menjaga kesehatan tidak selalu berarti menunggu sampai tubuh memberi tanda. Kadang, keputusan terbaik justru dibuat saat kita masih merasa baik-baik saja. Pilih kebiasaan yang membantu tubuhmu tetap kuat untuk perjalanan panjang menuju Unlock Your Best Life.

Sumber: World Health Organization (WHO). Tobacco; World Health Organization (WHO). Clinical Treatment Guideline for Tobacco Cessation in Adults, 2024.




Keranjang Belanja