Menjelang Ramadan, banyak orang merasa kaget di hari-hari awal puasa. Tubuh terasa cepat lapar, gampang lemes, ngantuk seharian, atau malah kalap saat berbuka. Padahal, sering kali masalahnya sederhana: jam makan kita belum siap bergeser.
Kabar baiknya, kamu nggak perlu diet ekstrem atau aturan ribet. Yang dibutuhkan justru strategi adaptasi yang pelan tapi konsisten, supaya tubuh bisa menyesuaikan diri dengan ritme baru tanpa terasa berat.
Saat Ramadan, pola makan berubah cukup drastis. Dari yang sebelumnya 3–4 kali sehari, kini asupan makanan lebih terkonsentrasi di pagi dan malam. Waktu jeda makan menjadi lebih panjang, dan jam tidur pun ikut bergeser.
Perubahan ini membuat tubuh perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Tanpa persiapan, ritme baru bisa terasa mengejutkan.
Adaptasi jam makan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Tujuannya bukan memaksa tubuh berubah cepat, tapi memberi ruang agar ritme baru terasa lebih natural.
Adaptasi jam makan sebelum Ramadan itu seperti pemanasan sebelum olahraga. Transisi yang halus membantu energi tetap stabil, sehingga kamu tidak merasa kaget di hari-hari pertama puasa dan bisa menjalani Ramadan dengan lebih nyaman.