Di banyak kamar tidur, ponsel menjadi hal terakhir yang disentuh sebelum mata terpejam. Niat awalnya sederhana: membalas pesan, mengecek satu video, atau membaca satu unggahan. Namun tanpa sadar, waktu bergeser. Jam menunjukkan pukul dua pagi, dan tubuh baru bersiap untuk tidur.
Kebiasaan ini semakin umum di usia muda. Doomscrolling—kebiasaan scroll konten tanpa henti—membuat otak tetap terjaga ketika tubuh seharusnya beristirahat.
Cahaya layar menekan produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk. Otak juga terus menerima stimulasi baru, sehingga sulit beralih ke mode istirahat.
Akibatnya, tidur tertunda, kualitas tidur menurun, dan tubuh kehilangan waktu pemulihan alami.
Banyak orang menganggap scroll sebelum tidur sebagai cara relaksasi. Padahal, bagi otak, itu adalah aktivitas yang aktif, bukan menenangkan.
Tanpa disadari, waktu tidur bergeser setiap malam hingga tubuh kehilangan ritme alami.
Tidur yang berkualitas bukan hanya soal durasi, tetapi juga soal kesiapan tubuh dan pikiran untuk beristirahat. Mengurangi doomscrolling adalah langkah kecil, namun konsisten, untuk menjaga energi, fokus, dan keseimbangan harian.