Lemon sering ditambahkan ke dalam air putih, teh, salad, hingga berbagai hidangan karena rasanya yang segar. Buah sitrus ini juga dikenal sebagai sumber vitamin C dan antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari kerusakan sel.
Mengonsumsi lemon secara rutin dapat memberikan sejumlah manfaat, mulai dari membantu penyerapan zat besi, mendukung kesehatan jantung, hingga berpotensi menurunkan risiko batu ginjal.
Meski demikian, lemon bukanlah bahan makanan ajaib yang dapat mengatasi semua masalah kesehatan. Manfaatnya tetap paling optimal ketika menjadi bagian dari pola makan seimbang dan gaya hidup sehat secara keseluruhan.
Batu ginjal terbentuk ketika mineral tertentu mengendap dan mengeras di dalam saluran kemih. Salah satu jenis yang paling umum adalah batu kalsium oksalat.
Lemon mengandung asam sitrat, yaitu bentuk sitrat yang dapat membantu meningkatkan kadar sitrat dalam urine. Sitrat dapat berikatan dengan kristal kalsium oksalat dan membantu mencegah kristal tersebut membesar menjadi batu ginjal.
Minum air yang diberi perasan lemon juga dapat membantu meningkatkan asupan cairan. Hidrasi yang cukup merupakan salah satu langkah penting untuk membantu mencegah pembentukan batu ginjal.
Namun, air lemon bukan pengganti pengobatan. Seseorang yang memiliki riwayat batu ginjal tetap perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui jenis batu dan strategi pencegahan yang sesuai.
Lemon kaya akan vitamin C dan senyawa antioksidan yang membantu melindungi sel tubuh dari radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil yang dapat memicu stres oksidatif dan kerusakan sel.
Kerusakan tersebut dapat berperan dalam terbentuknya aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di pembuluh darah yang meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
Lemon juga mengandung senyawa fenolik yang berpotensi membantu mendukung tekanan darah, fungsi pembuluh darah, dan kadar kolesterol LDL atau kolesterol “jahat”.
Meski begitu, manfaat ini tidak hanya dimiliki lemon. Konsumsi buah dan sayuran secara keseluruhan juga dikaitkan dengan risiko penyakit jantung, kanker, dan kematian dini yang lebih rendah.
Satu buah lemon tanpa kulit menyediakan sekitar 31 miligram vitamin C atau lebih dari 30% kebutuhan harian.
Vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi non-heme, yaitu jenis zat besi yang banyak ditemukan dalam bahan pangan nabati seperti bayam, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan sereal yang difortifikasi.
Tubuh tidak menyerap zat besi nabati sebaik zat besi dari sumber hewani. Karena itu, mengombinasikan makanan kaya zat besi nabati dengan sumber vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapannya.
Contohnya, tambahkan perasan lemon pada tumis bayam, salad kacang, sup kacang merah, atau hidangan berbahan tahu dan tempe.
Kebiasaan ini dapat membantu menurunkan risiko kekurangan zat besi, terutama pada vegan, vegetarian, perempuan usia produktif, dan orang dengan kebutuhan zat besi yang lebih tinggi.
Lemon mengandung berbagai antioksidan yang membantu mengurangi kerusakan sel akibat stres oksidatif.
Stres oksidatif telah dikaitkan dengan berbagai penyakit kronis, termasuk penyakit jantung, penyakit ginjal, gangguan paru, dan beberapa jenis kanker.
Bagian kulit lemon juga diketahui mengandung senyawa antioksidan dalam jumlah cukup tinggi. Namun, kulit lemon sebaiknya digunakan setelah dicuci bersih dan diparut tipis sebagai zest, bukan dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.
Satu buah lemon tanpa kulit mengandung sekitar:
Lemon juga mengandung sejumlah kecil kalium, vitamin B6, dan tiamin yang mendukung berbagai fungsi tubuh.
Air lemon sering dikaitkan dengan penurunan berat badan. Namun, lemon sendiri tidak secara langsung membakar lemak.
Manfaatnya lebih mungkin berasal dari kebiasaan mengganti minuman tinggi gula dengan air putih yang diberi lemon. Cara ini dapat membantu mengurangi asupan kalori sekaligus menjaga hidrasi.
Jika air lemon ditambahkan gula, madu, atau sirup dalam jumlah besar, manfaat tersebut tentu dapat berkurang.
Lemon umumnya aman dikonsumsi dalam jumlah yang biasa digunakan pada makanan dan minuman. Namun, ada beberapa hal yang tetap perlu diperhatikan.
Untuk melindungi gigi, minum air lemon menggunakan sedotan bila perlu, hindari menahannya terlalu lama di dalam mulut, lalu bilas mulut dengan air putih setelahnya. Jangan langsung menyikat gigi setelah mengonsumsi minuman asam karena enamel sedang dalam kondisi lebih rentan.
Lemon boleh dikonsumsi setiap hari selama tubuh dapat menerimanya dan tidak menimbulkan keluhan pada lambung, gigi, maupun kulit.
Namun, tidak perlu memaksakan konsumsi satu buah utuh setiap hari. Sedikit perasan lemon pada air atau makanan sudah dapat membantu menambah cita rasa dan asupan vitamin C.
Yang lebih penting adalah tetap mengonsumsi variasi buah dan sayur. Lemon tidak dapat menggantikan kebutuhan tubuh terhadap serat dan zat gizi dari bahan pangan lainnya.
Bagi Millway, menjaga kesehatan tidak harus dimulai dari kebiasaan yang rumit. Menambahkan lemon ke dalam pola makan dapat menjadi salah satu langkah sederhana, selama dilakukan dalam porsi wajar dan tetap diimbangi dengan makanan bergizi lainnya untuk Unlock Your Best Life.
Sumber: Isabel Vasquez, RD, LDN. What Happens to Your Body When You Eat Lemons Every Day. Health, 29 Januari 2026; Aune D, Giovannucci E, Boffetta P, et al. Fruit and Vegetable Intake and the Risk of Cardiovascular Disease, Total Cancer and All-Cause Mortality. International Journal of Epidemiology, 2017.