Pertemanan bisa menjadi salah satu sumber dukungan terbesar dalam hidup. Punya teman untuk berbagi cerita, tertawa, atau sekadar menemani hari yang berat dapat memberikan rasa terhubung dan membantu menjaga kesejahteraan emosional.
Namun, tidak semua pertemanan berjalan dengan cara yang sama selamanya. Ada hubungan yang berubah karena kesibukan, jarak, prioritas hidup, atau karena kita dan teman mulai berkembang ke arah yang berbeda.
Sesekali merasa kesal atau kecewa tentu masih normal. Tetapi jika sebuah pertemanan terus-menerus membuatmu merasa tidak nyaman, terkuras, atau kehilangan rasa aman, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali hubungan tersebut.
Hubungan pertemanan yang sehat tidak berarti selalu sepakat atau bebas konflik. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, bahkan periode jarang berkomunikasi tetap bisa terjadi.
Yang membedakan adalah adanya rasa saling menghargai, kepercayaan, ruang untuk menjadi diri sendiri, serta usaha dari kedua pihak untuk menjaga hubungan.
Psikolog dan ahli pertemanan Irene S. Levine, PhD, menjelaskan bahwa pertemanan merupakan hubungan yang bersifat sukarela dan idealnya tetap memberikan rasa positif bagi kedua pihak. Jika ketidaknyamanan justru menjadi pola yang terus berulang, hubungan tersebut mungkin perlu dievaluasi.
Tidak ada satu tanda yang otomatis berarti sebuah pertemanan harus berakhir. Namun, beberapa pola berikut bisa menjadi sinyal untuk mulai memperhatikan kondisi hubungan:
Yang perlu diperhatikan bukan satu kejadian saja, melainkan pola yang berlangsung berulang dan bagaimana hubungan tersebut memengaruhi kesehatan emosionalmu.
Ada kalanya perubahan dalam pertemanan sebenarnya tidak berkaitan dengan konflik. Pekerjaan yang semakin sibuk, tanggung jawab keluarga, kondisi kesehatan, pindah tempat tinggal, atau memasuki fase kehidupan baru dapat membuat seseorang memiliki lebih sedikit waktu dan energi.
Karena itu, komunikasi yang berkurang belum tentu berarti teman sudah tidak peduli.
Sebelum mengambil keputusan besar, coba lihat apakah masalah tersebut hanya terjadi dalam periode tertentu atau sudah menjadi pola dalam waktu yang cukup lama.
Jika hubungan tersebut masih penting bagimu dan situasinya cukup aman untuk dibicarakan, komunikasi terbuka bisa menjadi langkah pertama.
Daripada langsung menyalahkan, coba bicarakan pengalamanmu sendiri. Misalnya, sampaikan bahwa akhir-akhir ini hubungan terasa lebih jauh atau ada beberapa hal yang membuatmu kurang nyaman.
Percakapan seperti ini memberikan kesempatan bagi kedua pihak untuk memahami situasi dan menentukan apakah masih ada keinginan untuk memperbaiki hubungan.
Hubungan tidak selalu harus berakhir dengan keputusan dramatis. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah perubahan cara menjalani pertemanan.
Jika kamu sudah mencoba berkomunikasi dan menetapkan batas tetapi pola yang sama terus terulang, mengambil jarak lebih jauh mungkin menjadi pilihan.
Terutama jika hubungan dipenuhi manipulasi, kontrol berlebihan, penghinaan, pelanggaran batas, atau perilaku yang membuatmu merasa tidak aman, menjaga keselamatan dan kesehatan mental perlu menjadi prioritas.
Dalam situasi seperti ini, kamu tidak selalu berkewajiban mempertahankan hubungan hanya karena sudah mengenal seseorang selama bertahun-tahun.
Kehilangan seorang teman bisa terasa seperti kehilangan bagian dari kehidupan sendiri. Teman lama mungkin mengetahui banyak cerita, hadir dalam momen penting, atau menjadi bagian dari rutinitas selama bertahun-tahun.
Karena itu, rasa sedih, bersalah, ragu, atau bahkan kehilangan setelah sebuah pertemanan berakhir merupakan respons yang wajar.
Namun, berakhirnya hubungan tidak menghapus arti dari masa-masa baik yang pernah dijalani bersama. Sebuah pertemanan tetap bisa berharga meskipun akhirnya kedua orang memilih berjalan ke arah yang berbeda.
Menjaga kesehatan tidak hanya soal makanan, olahraga, atau tidur. Hubungan sosial dan rasa aman secara emosional juga memiliki peran penting terhadap kesejahteraan secara keseluruhan.
Bagi Millway, menjaga wellness juga berarti belajar mengenali hubungan mana yang masih memberikan ruang untuk bertumbuh, kapan perlu memperbaiki komunikasi, dan kapan kita perlu membuat batas demi menjaga diri sendiri.
Tidak semua hubungan harus bertahan selamanya untuk tetap memiliki arti. Yang penting adalah bagaimana hubungan tersebut memengaruhi dirimu hari ini.
Sumber: Health.com (2026); American Psychological Association.