Sesak napas, batuk, mengi, hidung tersumbat, atau gejala alergi bisa terasa mirip dari satu waktu ke waktu lain. Namun, obat yang digunakan untuk mengatasinya tidak selalu bekerja dengan cara yang sama.
Ada obat yang dirancang untuk membantu meredakan gejala dengan cepat, ada yang bekerja mengendalikan peradangan dalam jangka panjang, dan ada pula terapi khusus untuk asma yang berkaitan dengan alergi.
Karena itu, memahami fungsi dasar tiap kelompok obat penting agar penggunaannya tidak tertukar. Pemilihan terapi tetap perlu disesuaikan dengan diagnosis, tingkat keparahan gejala, pemicu, serta rekomendasi tenaga kesehatan.
Pada sebagian orang, asma dapat dipicu oleh paparan alergen seperti debu, tungau, serbuk sari, bulu hewan, atau pemicu lain. Kondisi ini dikenal sebagai asma alergi.
Saat terpapar pemicu, sistem imun dapat memicu peradangan yang membuat saluran napas lebih sensitif dan menyempit. Akibatnya, muncul gejala seperti batuk, mengi, dada terasa berat, atau sulit bernapas.
Menghindari pemicu memang penting, tetapi tidak selalu cukup. Dalam banyak kasus, obat tetap dibutuhkan untuk meredakan gejala atau mengendalikan peradangan.
Obat golongan short-acting beta agonist atau SABA dikenal sebagai bronkodilator kerja cepat. Obat ini membantu melemaskan otot di sekitar saluran napas sehingga napas terasa lebih lega dalam waktu relatif singkat.
Karena bekerja cepat, kelompok ini sering disebut sebagai rescue inhaler. Namun, jika seseorang semakin sering membutuhkan inhaler pereda, kondisi asma perlu dievaluasi karena kontrol penyakitnya mungkin belum optimal.
Berbeda dengan rescue inhaler, kortikosteroid inhalasi tidak ditujukan untuk meredakan sesak secara instan. Fungsinya adalah membantu mengurangi peradangan di saluran napas sehingga gejala dan risiko serangan dapat lebih terkontrol dalam jangka panjang.
Efeknya juga tidak langsung terasa dalam hitungan menit. Karena itu, obat ini biasanya digunakan secara teratur sesuai rencana terapi yang diberikan dokter.
Golongan long-acting beta agonist atau LABA dapat membantu menjaga saluran napas tetap terbuka lebih lama.
Pada asma, kelompok ini umumnya digunakan bersama kortikosteroid inhalasi, bukan sebagai terapi tunggal. Kombinasi tersebut membantu mengatasi penyempitan saluran napas sekaligus mengendalikan peradangan.
Obat seperti montelukast bekerja dengan menghambat leukotrien, yaitu senyawa yang berperan dalam peradangan dan penyempitan saluran napas.
Obat ini tersedia dalam bentuk tablet dan dapat digunakan pada kondisi tertentu, termasuk sebagian kasus asma alergi.
Namun, montelukast memiliki peringatan terkait kemungkinan perubahan suasana hati dan perilaku. Karena itu, manfaat dan risikonya perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Theophylline juga merupakan bronkodilator yang bekerja membantu membuka saluran napas. Namun, penggunaannya kini lebih terbatas karena memiliki rentang dosis yang perlu diperhatikan dan dapat menimbulkan efek samping bila kadarnya terlalu tinggi.
Efek samping dapat berupa sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga gangguan irama jantung pada kondisi tertentu.
Pada asma yang lebih berat atau memiliki mekanisme alergi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan terapi biologis seperti omalizumab atau dupilumab.
Obat biologis bekerja dengan menargetkan bagian tertentu dari respons imun. Karena mekanismenya spesifik, terapi ini tidak ditujukan untuk semua pasien asma dan penggunaannya memerlukan evaluasi medis.
Kortikosteroid oral seperti prednisone dapat digunakan dalam jangka pendek untuk membantu mengatasi serangan asma yang lebih berat atau ketika gejala tidak cukup terkontrol dengan terapi rutin.
Penggunaan jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai efek samping. Karena itu, obat ini sebaiknya digunakan sesuai resep dan pengawasan tenaga kesehatan.
Antihistamin bekerja dengan menghambat efek histamin, senyawa yang dilepaskan tubuh saat mengalami reaksi alergi.
Obat ini lebih sering membantu gejala alergi seperti bersin, gatal, atau hidung berair. Pada orang yang memiliki asma dengan komponen alergi, antihistamin dapat menjadi bagian dari pengelolaan gejala, tetapi bukan pengganti obat pengontrol asma.
Imunoterapi alergi, termasuk suntikan alergi, bekerja dengan memberikan paparan alergen secara bertahap dan terukur agar tubuh menjadi kurang sensitif terhadap pemicu tersebut.
Terapi ini membutuhkan waktu panjang dan biasanya dilakukan setelah pemeriksaan untuk mengetahui alergen yang relevan.
Salah satu hal penting dalam pengelolaan asma adalah memahami perbedaan antara obat untuk meredakan gejala saat muncul dan obat yang digunakan untuk menjaga kondisi tetap terkontrol.
Jika gejala asma semakin sering, sering terbangun pada malam hari karena sesak atau batuk, aktivitas mulai terganggu, atau inhaler pereda semakin sering digunakan, kondisi tersebut perlu dibicarakan dengan dokter.
Segera cari pertolongan medis bila sesak terasa berat, sulit berbicara karena kekurangan napas, bibir atau wajah tampak kebiruan, atau obat pereda tidak memberikan perbaikan sesuai rencana yang telah diberikan tenaga kesehatan.
Asma dan alergi dapat dikelola dengan baik ketika pemicu dikenali dan terapi digunakan secara tepat. Namun, obat yang cocok untuk satu orang belum tentu tepat untuk orang lain.
Jangan menghentikan, mengganti, atau menambah dosis obat asma hanya karena gejala sedang terasa membaik tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Bagi Millway, memahami cara kerja pengobatan menjadi bagian penting dari menjaga kesehatan secara lebih sadar. Kenali pemicu, pahami fungsi obat yang digunakan, dan lakukan kontrol berkala agar kondisi pernapasan tetap terjaga.
Sumber: Health.com (2026); panduan pengelolaan asma dan alergi dari sumber medis terkait.