Deadline datang bersamaan, pekerjaan belum selesai, tidur semakin malam, lalu bangun keesokan harinya untuk mengulang rutinitas yang sama. Di usia produktif, stres sering dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan. Selama masih bisa bekerja dan menjalani aktivitas, kita mungkin merasa semuanya masih baik-baik saja.
Padahal, stres tidak hanya terjadi di dalam pikiran. Tubuh juga ikut meresponsnya. Ketika stres berlangsung terus-menerus tanpa waktu pemulihan yang cukup, berbagai sistem di dalam tubuh dapat ikut terpengaruh, termasuk sistem imun.
Hubungan antara stres dan kesehatan imun cukup kompleks. Stres bukan penyebab tunggal penyakit autoimun, tetapi penelitian menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat memengaruhi regulasi sistem imun dan proses inflamasi. Pada orang yang sudah memiliki kondisi autoimun tertentu, stres juga dapat berkaitan dengan memburuknya gejala atau munculnya flare.
Stres sebenarnya merupakan respons alami tubuh. Ketika menghadapi situasi yang dianggap menantang atau mengancam, tubuh mengaktifkan sistem respons stres dan melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol.
Dalam jangka pendek, respons ini membantu tubuh menjadi lebih waspada. Denyut jantung dapat meningkat, energi lebih cepat tersedia, dan perhatian menjadi lebih terarah untuk menghadapi situasi yang sedang terjadi. Setelah situasi berlalu, tubuh idealnya kembali menuju kondisi normal.
Masalah dapat muncul ketika stres tidak benar-benar berhenti. Tekanan pekerjaan, masalah finansial, konflik hubungan, kurang tidur, atau berbagai beban emosional dapat membuat respons stres berlangsung lebih lama daripada yang dibutuhkan tubuh.
Ketika kondisi ini menjadi kronis, regulasi hormon stres dan sistem imun dapat ikut berubah. Inilah salah satu alasan mengapa stres berkepanjangan semakin banyak dipelajari dalam kaitannya dengan inflamasi dan berbagai kondisi kesehatan.
Sistem imun memiliki tugas yang sangat kompleks. Ia perlu cukup aktif untuk melawan infeksi dan ancaman dari luar, tetapi juga harus mampu mengenali jaringan tubuh sendiri agar tidak menyerangnya.
Stres kronis dapat memengaruhi komunikasi antara sistem saraf, hormon, dan sistem imun. Paparan hormon stres yang berlangsung lama juga dikaitkan dengan perubahan respons inflamasi tubuh.
Karena itu, pembahasan mengenai stres dan kesehatan imun bukan sekadar soal seseorang menjadi “lebih gampang sakit” ketika sedang banyak pikiran. Hubungannya melibatkan mekanisme biologis yang jauh lebih kompleks dan masih terus dipelajari.
Penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun secara keliru menyerang sel, jaringan, atau organ tubuh sendiri. Lupus, rheumatoid arthritis, multiple sclerosis, psoriasis, inflammatory bowel disease, dan Graves' disease merupakan beberapa contoh kondisi yang melibatkan mekanisme autoimun.
Penyebab penyakit autoimun tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor saja. Faktor genetik, hormonal, lingkungan, infeksi, serta faktor lainnya dapat ikut berperan. Karena itu, mengatakan bahwa seseorang mengalami autoimun hanya karena stres merupakan penyederhanaan yang tidak tepat.
Meski demikian, sejumlah penelitian menemukan hubungan antara stres berat atau gangguan terkait stres dengan peningkatan risiko diagnosis penyakit autoimun. Stres juga dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan munculnya atau memburuknya gejala pada sebagian orang yang sudah hidup dengan kondisi autoimun.
Artinya, stres lebih tepat dipahami sebagai salah satu bagian dari gambaran kesehatan yang lebih besar, bukan sebagai satu-satunya penyebab.
Salah satu hal yang sering berjalan beriringan dengan stres adalah gangguan tidur. Pikiran yang terus aktif dapat membuat seseorang sulit tidur, sering terbangun, atau merasa tidak cukup segar ketika bangun.
Di sisi lain, kurang tidur juga dapat memengaruhi suasana hati dan kemampuan tubuh menghadapi tekanan keesokan harinya. Akhirnya terbentuk siklus: stres membuat tidur terganggu, sementara tidur yang tidak cukup membuat kita lebih sulit menghadapi stres.
Karena itu, mengelola stres tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar. Memperbaiki waktu tidur, memberi tubuh kesempatan beristirahat, dan membuat jeda dari aktivitas yang terus-menerus menuntut perhatian dapat menjadi bagian penting dari proses pemulihan.
Kita mungkin tidak bisa menghilangkan seluruh sumber stres dari kehidupan. Namun, kita bisa mengubah bagaimana tubuh mendapatkan kesempatan untuk pulih setelah menghadapinya.
Beberapa kebiasaan sederhana berikut dapat menjadi titik awal:
Seseorang tetap bisa datang bekerja, menyelesaikan tugas, bertemu orang lain, dan terlihat produktif ketika sebenarnya tubuh sedang menghadapi stres berkepanjangan. Itu sebabnya, kemampuan untuk tetap menjalani aktivitas bukan satu-satunya ukuran bahwa tubuh baik-baik saja.
Coba sesekali perhatikan perubahan sederhana: apakah tidur mulai terganggu, tubuh terus terasa lelah, emosi lebih mudah berubah, sulit berkonsentrasi, atau pikiran terasa sulit berhenti meski hari sudah selesai?
Gejala tersebut tidak otomatis berarti ada penyakit autoimun atau kondisi medis tertentu. Namun, perubahan yang menetap dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi rutinitas dan, bila diperlukan, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Kita tidak selalu punya kendali atas tekanan yang datang, tetapi kita bisa mulai lebih sadar terhadap cara tubuh meresponsnya. Tidur yang cukup, bergerak secara rutin, makan dengan baik, menjaga hubungan sosial, dan memberi diri waktu untuk beristirahat mungkin terdengar sederhana, tetapi kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian penting dari kesehatan jangka panjang. Bagi Millway, wellness bukan tentang hidup tanpa stres, melainkan belajar mengenali kapan tubuh membutuhkan jeda dan memberinya ruang untuk kembali seimbang.
Sumber: detikHealth, “Memahami Hubungan Antara Stres dan Autoimun yang Mengintai Usia Muda”; American Psychological Association (APA), Stress Effects on the Body; Song H. et al., “Association of Stress-Related Disorders With Subsequent Autoimmune Disease,” JAMA.