Pernah bangun tidur dan masih bisa mengingat mimpi semalam dengan sangat jelas? Mulai dari tempat, orang-orang yang muncul, hingga kejadian aneh yang terasa begitu nyata.
Namun, ada juga orang yang langsung lupa dengan mimpinya hanya beberapa detik setelah membuka mata. Bahkan, sebagian orang merasa seolah-olah tidak pernah bermimpi sama sekali.
Padahal, bermimpi merupakan bagian yang umum dari proses tidur. Lalu, mengapa kemampuan setiap orang untuk mengingat mimpi bisa berbeda? Apakah sering mengingat mimpi menandakan kualitas tidur yang buruk?
Yuk, kenali penjelasannya!
Sebagian besar orang mengalami mimpi selama tidur, meskipun tidak selalu mengingatnya ketika bangun.
Mimpi sering kali terjadi pada fase Rapid Eye Movement (REM), yaitu tahap tidur ketika aktivitas otak meningkat dan gerakan mata berlangsung cepat di balik kelopak mata.
Pada fase ini, aktivitas otak dalam beberapa aspek menyerupai kondisi ketika seseorang sedang terjaga. Karena itu, mimpi yang muncul dapat terasa sangat jelas, emosional, atau memiliki alur cerita yang kompleks.
Namun, mimpi juga dapat terjadi pada fase tidur non-REM. Jadi, bermimpi bukan hanya terbatas pada satu tahap tidur.
Yang membedakan setiap orang bukan semata-mata apakah mereka bermimpi, tetapi juga seberapa mudah otak menyimpan dan mengingat pengalaman tersebut setelah terbangun.
Kemampuan mengingat mimpi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari waktu terbangun, aktivitas otak, hingga kondisi emosional.
1. Terbangun Saat atau Setelah Fase REM
Seseorang cenderung lebih mudah mengingat mimpi jika terbangun ketika mimpi masih berlangsung atau tidak lama setelahnya.
Hal ini dapat terjadi ketika seseorang terbangun secara alami maupun karena alarm. Ketika jarak antara pengalaman bermimpi dan waktu terbangun sangat singkat, isi mimpi lebih mungkin masih tersimpan dalam ingatan.
2. Lebih Sering Terbangun pada Malam Hari
Orang yang beberapa kali terbangun saat tidur mungkin memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengingat mimpinya.
Saat terbangun, otak memiliki kesempatan untuk memproses pengalaman mimpi menjadi ingatan yang dapat diakses kembali.
Namun, sering terbangun bukan berarti kualitas tidur lebih baik. Jika tidur terus-menerus terganggu, tubuh justru bisa mengalami kurang istirahat.
3. Perbedaan Aktivitas Otak
Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan mengingat mimpi dan aktivitas pada area otak tertentu, termasuk temporoparietal junction, yang terlibat dalam pemrosesan perhatian dan informasi.
Beberapa temuan menunjukkan bahwa orang yang lebih sering mengingat mimpi memiliki pola aktivitas otak yang berbeda dibandingkan mereka yang jarang mengingatnya.
Meski demikian, penelitian ini belum membuktikan bahwa satu area otak tertentu menjadi satu-satunya penyebab seseorang lebih mudah mengingat mimpi.
4. Perhatian terhadap Mimpi
Orang yang terbiasa memperhatikan, memikirkan, atau mencatat mimpi mungkin lebih mudah mengingatnya.
Beberapa penelitian juga mengeksplorasi hubungan antara ingatan mimpi dengan kreativitas, kebiasaan berimajinasi, dan introspeksi. Namun, hubungan tersebut belum cukup kuat untuk menentukan kepribadian seseorang hanya berdasarkan kemampuan mengingat mimpi.
5. Stres dan Kondisi Emosional
Mimpi yang melibatkan emosi kuat, seperti rasa takut, sedih, atau cemas, terkadang lebih mudah diingat.
Stres, pengalaman kehilangan, maupun kejadian yang membekas secara emosional dapat berkaitan dengan munculnya mimpi yang terasa lebih intens.
Namun, mimpi yang jelas atau emosional tidak selalu menandakan adanya masalah kesehatan mental.
Pernah merasa baru saja mengalami mimpi yang panjang, tetapi beberapa menit kemudian tidak bisa mengingat ceritanya?
Hal tersebut merupakan pengalaman yang umum terjadi.
Saat tidur, otak menjalankan berbagai proses yang berkaitan dengan pembelajaran, emosi, dan pembentukan memori. Namun, tidak semua pengalaman mimpi tersimpan sebagai ingatan jangka panjang.
Jika isi mimpi tidak sempat diingat atau diperhatikan setelah bangun, detailnya dapat memudar dengan cepat.
Karena itu, lupa mimpi bukan berarti seseorang tidak bermimpi atau memiliki daya ingat yang buruk dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak selalu.
Mengingat mimpi merupakan hal yang normal dan tidak otomatis menandakan kualitas tidur yang buruk.
Namun, ada kondisi tertentu yang dapat membuat seseorang lebih sering mengingat mimpi karena tidurnya terganggu.
Misalnya, jadwal tidur yang tidak teratur, sering terbangun akibat alarm, konsumsi alkohol, atau gangguan tidur seperti sleep apnea.
Sleep apnea merupakan gangguan yang menyebabkan pernapasan berulang kali terhenti atau berkurang saat tidur. Kondisi ini dapat mengganggu kesinambungan tidur dan menyebabkan kantuk berlebihan pada siang hari.
Jadi, hal yang lebih penting untuk diperhatikan bukan seberapa sering kamu mengingat mimpi, melainkan apakah tidurmu cukup dan tubuh terasa segar ketika bangun.
Mimpi buruk sesekali merupakan hal yang umum. Namun, jika mimpi buruk terjadi berulang kali hingga membuat seseorang takut tidur, sering terbangun, atau merasa kelelahan pada siang hari, kondisi tersebut perlu diperhatikan.
Mimpi buruk yang berulang juga dapat berkaitan dengan stres berat, gangguan tidur, penggunaan obat tertentu, atau kondisi kesehatan mental seperti post-traumatic stress disorder (PTSD).
Jika mimpi buruk mulai mengganggu aktivitas, suasana hati, atau kualitas tidur, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang sesuai.
Jika kamu penasaran dengan mimpi yang dialami saat tidur, beberapa kebiasaan sederhana berikut bisa dicoba:
Perlu diingat, mengingat mimpi bukanlah ukuran keberhasilan tidur. Jika kamu jarang mengingat mimpi tetapi tidur cukup dan merasa segar saat bangun, hal tersebut umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Setiap orang memiliki pengalaman tidur yang berbeda. Ada yang bisa menceritakan mimpinya secara detail, sementara yang lain hampir tidak pernah mengingat apa pun setelah bangun.
Keduanya bisa menjadi pengalaman yang normal. Kemampuan mengingat mimpi dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator kualitas tidur.
Daripada terlalu memikirkan mengapa mimpi mudah terlupakan, lebih baik fokus membangun kebiasaan tidur yang sehat, seperti menjaga jadwal tidur, mengelola stres, dan menciptakan suasana kamar yang nyaman.
Bersama Millway, yuk mulai lebih peduli dengan kualitas istirahat dan kesehatan mental. Karena tidur yang cukup bukan hanya membantu tubuh kembali bertenaga, tetapi juga mendukung suasana hati, konsentrasi, dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Sumber: Healthline, "Why Some People Always Remember Their Dreams and Others Forget", Sarah Fielding.