Mendengarkan musik atau podcast menggunakan headphone sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang, terutama generasi muda. Mulai dari perjalanan menuju kantor, bekerja, berolahraga, hingga mengerjakan pekerjaan rumah, headphone sering kali menjadi teman yang sulit dilepaskan.
Bagi sebagian orang, mendengarkan musik membuat aktivitas terasa lebih menyenangkan, membantu menjaga suasana hati, atau sekadar mengurangi rasa bosan.
Namun, para ahli mulai menyoroti sisi lain dari kebiasaan menggunakan headphone hampir sepanjang hari. Bukan hanya berkaitan dengan kesehatan pendengaran, kebiasaan ini juga berpotensi memengaruhi interaksi sosial dan kemampuan seseorang menikmati waktu tanpa distraksi.
Lantas, apakah terlalu sering menggunakan headphone dapat memengaruhi kesehatan mental? Dan bagaimana cara menjaga kebiasaan mendengarkan musik agar tetap seimbang?
Headphone dan earphone kini bukan hanya perangkat untuk mendengarkan musik, tetapi juga bagian dari rutinitas sehari-hari.
Mengutip CNN, survei Edison Research yang dirilis pada Mei menunjukkan bahwa kelompok usia 13–34 tahun menghabiskan rata-rata sekitar 4,5 jam sehari untuk mendengarkan berbagai konten audio, termasuk musik dan podcast.
Kemudahan mengakses konten melalui smartphone membuat seseorang dapat terus mendengarkan sesuatu ketika bepergian, bekerja, atau melakukan aktivitas lainnya.
Meski tidak selalu menjadi masalah, penggunaan headphone secara terus-menerus dapat membuat seseorang semakin terbiasa mengisi setiap waktu luang dengan suara.
Headphone sering digunakan untuk membantu berkonsentrasi atau mengurangi gangguan dari lingkungan sekitar. Namun, penggunaannya juga dapat menjadi penghalang komunikasi, meskipun tidak disengaja.
Dr. Gloria Mark, profesor informatika di University of California, Irvine, menjelaskan bahwa sebagian orang menggunakan headphone sebagai cara untuk membatasi interaksi dengan orang lain.
Sementara itu, Richard Davidson dari Center for Healthy Minds, University of Wisconsin–Madison, menyoroti bagaimana penggunaan headphone yang terus-menerus dapat membuat seseorang melewatkan kesempatan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, percakapan singkat dengan teman, menyapa orang di sekitar, atau sekadar bertukar senyum ketika menunggu antrean.
Interaksi sederhana seperti ini dapat membantu membangun rasa keterhubungan dengan lingkungan sosial.
Meski demikian, bukan berarti setiap orang yang menggunakan headphone akan menjadi lebih kesepian. Dampaknya dapat berbeda tergantung kebiasaan, kebutuhan, dan kualitas hubungan sosial masing-masing individu.
Hubungan sosial tidak selalu harus dibangun melalui percakapan panjang atau pertemuan yang direncanakan.
Interaksi singkat dalam kehidupan sehari-hari juga dapat memberikan pengalaman positif, seperti merasa diperhatikan, diterima, atau menjadi bagian dari lingkungan sekitar.
Menurut Davidson, hubungan sederhana, termasuk dengan orang yang belum dikenal, dapat menjadi salah satu sumber dukungan bagi kesejahteraan psikologis.
Ketika seseorang terlalu sering menutup diri dari lingkungan dengan headphone, beberapa kesempatan spontan untuk membangun koneksi sosial mungkin terlewatkan.
Namun, penting dipahami bahwa penggunaan headphone bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kesepian. Kualitas hubungan, kondisi emosional, dan lingkungan sosial juga memiliki peran penting.
Selain berkaitan dengan interaksi sosial, penggunaan headphone secara terus-menerus juga menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan seseorang menghadapi keheningan.
Ketika merasa bosan, sebagian orang langsung memutar musik, podcast, atau konten lainnya untuk mengisi waktu.
Padahal, waktu tanpa distraksi dapat menjadi kesempatan untuk memperhatikan lingkungan, mengenali pikiran, dan menyadari perasaan yang sedang dialami.
Gloria Mark menjelaskan bahwa banyak orang semakin terbiasa mencari stimulasi ketika menghadapi kebosanan atau keheningan.
Sementara itu, Davidson menekankan pentingnya mindfulness, yaitu kemampuan untuk memberikan perhatian secara sadar terhadap pengalaman yang sedang berlangsung.
Sebagai contoh, berjalan tanpa mendengarkan musik sesekali dapat membantu seseorang lebih memperhatikan suasana sekitar, suara alam, atau aktivitas yang sedang dilakukan.
Hal ini bukan berarti musik selalu mengganggu kesadaran diri. Musik juga dapat memberikan manfaat emosional. Yang perlu diperhatikan adalah apakah seseorang masih nyaman menjalani aktivitas tanpa harus terus-menerus mendapatkan stimulasi audio.
Selain aspek psikologis dan sosial, kebiasaan menggunakan headphone juga perlu diperhatikan dari sisi kesehatan telinga.
Mendengarkan suara terlalu keras dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran akibat paparan kebisingan.
Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD), paparan suara pada tingkat sekitar 85 desibel atau lebih dalam durasi yang cukup lama dapat menyebabkan kerusakan pendengaran.
Risiko tidak hanya ditentukan oleh volume, tetapi juga oleh lamanya paparan. Semakin keras suara yang didengarkan, semakin singkat waktu paparan yang dapat ditoleransi dengan aman.
Karena itu, menjaga volume tetap nyaman dan memberikan waktu istirahat bagi telinga merupakan langkah penting saat menggunakan headphone.
Tidak perlu langsung menghentikan kebiasaan mendengarkan musik. Sebaliknya, cobalah membangun keseimbangan antara menikmati konten audio dan tetap terhubung dengan lingkungan sekitar.
Kebiasaan kecil ini dapat membantu menjaga keseimbangan antara kenyamanan pribadi, kesehatan pendengaran, dan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Musik dan podcast dapat menjadi bagian menyenangkan dari rutinitas sehari-hari. Namun, tidak semua momen harus selalu diisi dengan suara.
Sesekali melepaskan headphone bisa menjadi kesempatan untuk menikmati suasana, mengenali pikiran sendiri, atau membuka ruang bagi interaksi sederhana dengan orang lain.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental bukan berarti harus menjauh dari teknologi, melainkan menggunakannya dengan lebih sadar dan seimbang.
Yuk, mulai bangun kebiasaan digital yang lebih sehat bersama Millway. Temukan berbagai informasi mengenai kesehatan mental, aktivitas fisik, dan gaya hidup sehat melalui aplikasi Millway.
Unlock Your Best Life!
Sumber: CNN, "Gen Zers Love Using Headphones — But Do They Know the Risks? Experts Weigh In" (19 Oktober 2026); Edison Research; National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD).