Membuka media sosial atau portal berita untuk mengetahui perkembangan terbaru sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, ketika berita tentang bencana, konflik, kecelakaan, atau tragedi terus muncul berulang kali, tanpa sadar kita bisa menghabiskan banyak waktu membaca, menonton, dan mencari informasi serupa.
Alih-alih merasa lebih tenang karena sudah mengetahui situasinya, sebagian orang justru menjadi semakin cemas, sulit berhenti memikirkan berita tersebut, atau merasa harus terus mengecek perkembangan terbaru.
Kepedulian terhadap suatu peristiwa tentu bukan hal yang salah. Namun, menjaga batas antara tetap mendapatkan informasi dan terus-menerus terpapar kabar negatif juga penting untuk menjaga kondisi mental.
Ketika melihat informasi yang dianggap mengancam, tubuh dapat memberikan respons stres. Otak menjadi lebih waspada terhadap kemungkinan bahaya dan membuat kita terdorong untuk mencari informasi tambahan.
Masalahnya, satu berita sering kali mengarah ke berita lain. Kita membaca satu artikel, membuka video berikutnya, melihat komentar, lalu kembali mencari perkembangan terbaru. Kebiasaan mengonsumsi berita negatif terus-menerus ini sering disebut doomscrolling.
Semakin sering melihat gambar, video, atau informasi yang sama, bukan berarti kita akan semakin terbiasa. Pada sebagian orang, paparan berulang justru dapat mempertahankan rasa terancam, membuat pikiran sulit beristirahat, dan meningkatkan kecemasan.
Saat terjadi peristiwa besar, muncul perasaan bahwa kita harus terus mengikuti setiap perkembangan agar tidak tertinggal informasi. Padahal, mengetahui setiap pembaruan tidak selalu membuat kita lebih mampu membantu.
Psikolog Meity Arianty menjelaskan bahwa seseorang tetap dapat menunjukkan kepedulian tanpa harus terus-menerus terpapar penderitaan. Salah satu caranya adalah dengan membuat batas sehat terhadap konsumsi berita.
Artinya, kita tetap bisa mengetahui apa yang sedang terjadi, tetapi tidak perlu membiarkan berita mengambil seluruh perhatian dan memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Setiap orang memiliki toleransi yang berbeda terhadap informasi negatif. Namun, ada beberapa tanda yang bisa menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan jeda.
Jika beberapa hal tersebut mulai terasa familiar, bukan berarti kamu harus berhenti mengikuti berita sama sekali. Yang dibutuhkan mungkin hanya cara mengonsumsi informasi yang lebih terkontrol.
Membuat batas konsumsi informasi bisa menjadi langkah pertama. Beberapa kebiasaan sederhana berikut dapat dicoba:
Berita buruk sering membuat seseorang merasa tidak berdaya karena situasi yang terjadi berada jauh di luar kendalinya. Dalam kondisi seperti ini, fokus pada tindakan yang memang bisa dilakukan dapat membantu.
Jika memungkinkan, kamu bisa membantu melalui donasi kepada lembaga tepercaya, membagikan informasi yang telah diverifikasi, mendukung orang di sekitar yang terdampak, atau melakukan bentuk bantuan lain sesuai kemampuan.
Namun, ketika tidak ada tindakan yang dapat dilakukan saat itu, mengizinkan diri untuk berhenti membaca berita juga merupakan pilihan yang sehat. Kamu tetap boleh bekerja, beristirahat, makan, berolahraga, atau menjalani aktivitas sehari-hari tanpa harus merasa bersalah.
Sebelum membuka berita berikutnya, coba berhenti sejenak dan perhatikan kondisi diri. Apakah informasi tersebut benar-benar menambah pemahaman, atau justru membuat kecemasan semakin besar?
Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita menyadari kapan kebutuhan mendapatkan informasi sudah berubah menjadi kebiasaan scrolling yang sulit dihentikan.
Jika sudah merasa kewalahan, tutup aplikasi sejenak. Alihkan perhatian pada aktivitas yang membawa tubuh kembali ke kondisi saat ini, seperti berbicara dengan orang lain, berjalan sebentar, makan dengan tenang, melakukan latihan pernapasan, atau menyelesaikan pekerjaan sederhana.
Menjaga kesehatan mental di tengah banyaknya berita buruk bukan berarti menutup mata terhadap keadaan sekitar. Justru, kondisi fisik dan mental yang lebih stabil membuat kita mampu berpikir lebih jernih dan memberikan bantuan dengan cara yang lebih tepat.
Bagi Millway, wellness juga berarti memahami kapan tubuh dan pikiran membutuhkan batas. Tetaplah terinformasi, tetap peduli, tetapi berikan juga ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang.
Sumber: detikHealth, “Terus Terpapar Berita Buruk, Begini Cara Mengatasi Cemas Menurut Psikolog” (2026); American Psychological Association.
Membuka media sosial atau portal berita untuk mengetahui perkembangan terbaru sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, ketika berita tentang bencana, konflik, kecelakaan, atau tragedi terus muncul berulang kali, tanpa sadar kita bisa menghabiskan banyak waktu membaca, menonton, dan mencari informasi serupa.
Alih-alih merasa lebih tenang karena sudah mengetahui situasinya, sebagian orang justru menjadi semakin cemas, sulit berhenti memikirkan berita tersebut, atau merasa harus terus mengecek perkembangan terbaru.
Kepedulian terhadap suatu peristiwa tentu bukan hal yang salah. Namun, menjaga batas antara tetap mendapatkan informasi dan terus-menerus terpapar kabar negatif juga penting untuk menjaga kondisi mental.
Ketika melihat informasi yang dianggap mengancam, tubuh dapat memberikan respons stres. Otak menjadi lebih waspada terhadap kemungkinan bahaya dan membuat kita terdorong untuk mencari informasi tambahan.
Masalahnya, satu berita sering kali mengarah ke berita lain. Kita membaca satu artikel, membuka video berikutnya, melihat komentar, lalu kembali mencari perkembangan terbaru. Kebiasaan mengonsumsi berita negatif terus-menerus ini sering disebut doomscrolling.
Semakin sering melihat gambar, video, atau informasi yang sama, bukan berarti kita akan semakin terbiasa. Pada sebagian orang, paparan berulang justru dapat mempertahankan rasa terancam, membuat pikiran sulit beristirahat, dan meningkatkan kecemasan.
Saat terjadi peristiwa besar, muncul perasaan bahwa kita harus terus mengikuti setiap perkembangan agar tidak tertinggal informasi. Padahal, mengetahui setiap pembaruan tidak selalu membuat kita lebih mampu membantu.
Psikolog Meity Arianty menjelaskan bahwa seseorang tetap dapat menunjukkan kepedulian tanpa harus terus-menerus terpapar penderitaan. Salah satu caranya adalah dengan membuat batas sehat terhadap konsumsi berita.
Artinya, kita tetap bisa mengetahui apa yang sedang terjadi, tetapi tidak perlu membiarkan berita mengambil seluruh perhatian dan memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Setiap orang memiliki toleransi yang berbeda terhadap informasi negatif. Namun, ada beberapa tanda yang bisa menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan jeda.
Jika beberapa hal tersebut mulai terasa familiar, bukan berarti kamu harus berhenti mengikuti berita sama sekali. Yang dibutuhkan mungkin hanya cara mengonsumsi informasi yang lebih terkontrol.
Membuat batas konsumsi informasi bisa menjadi langkah pertama. Beberapa kebiasaan sederhana berikut dapat dicoba:
Berita buruk sering membuat seseorang merasa tidak berdaya karena situasi yang terjadi berada jauh di luar kendalinya. Dalam kondisi seperti ini, fokus pada tindakan yang memang bisa dilakukan dapat membantu.
Jika memungkinkan, kamu bisa membantu melalui donasi kepada lembaga tepercaya, membagikan informasi yang telah diverifikasi, mendukung orang di sekitar yang terdampak, atau melakukan bentuk bantuan lain sesuai kemampuan.
Namun, ketika tidak ada tindakan yang dapat dilakukan saat itu, mengizinkan diri untuk berhenti membaca berita juga merupakan pilihan yang sehat. Kamu tetap boleh bekerja, beristirahat, makan, berolahraga, atau menjalani aktivitas sehari-hari tanpa harus merasa bersalah.
Sebelum membuka berita berikutnya, coba berhenti sejenak dan perhatikan kondisi diri. Apakah informasi tersebut benar-benar menambah pemahaman, atau justru membuat kecemasan semakin besar?
Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita menyadari kapan kebutuhan mendapatkan informasi sudah berubah menjadi kebiasaan scrolling yang sulit dihentikan.
Jika sudah merasa kewalahan, tutup aplikasi sejenak. Alihkan perhatian pada aktivitas yang membawa tubuh kembali ke kondisi saat ini, seperti berbicara dengan orang lain, berjalan sebentar, makan dengan tenang, melakukan latihan pernapasan, atau menyelesaikan pekerjaan sederhana.
Menjaga kesehatan mental di tengah banyaknya berita buruk bukan berarti menutup mata terhadap keadaan sekitar. Justru, kondisi fisik dan mental yang lebih stabil membuat kita mampu berpikir lebih jernih dan memberikan bantuan dengan cara yang lebih tepat.
Bagi Millway, wellness juga berarti memahami kapan tubuh dan pikiran membutuhkan batas. Tetaplah terinformasi, tetap peduli, tetapi berikan juga ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang.
Sumber: detikHealth, “Terus Terpapar Berita Buruk, Begini Cara Mengatasi Cemas Menurut Psikolog” (2026); American Psychological Association.