Buat sebagian orang, makan rasanya belum lengkap kalau nasinya belum banyak. Apalagi setelah seharian sekolah, bekerja, atau beraktivitas, sepiring nasi dengan porsi besar sering dianggap wajar karena terasa lebih mengenyangkan.
Nasi memang merupakan salah satu sumber karbohidrat yang penting bagi tubuh. Setelah dikonsumsi, karbohidrat akan dipecah menjadi glukosa yang digunakan sebagai sumber energi. Namun, ketika porsinya terlalu besar dan terus menjadi kebiasaan, komposisi makan bisa menjadi tidak seimbang.
Jadi, masalahnya bukan karena nasi harus dihindari. Yang perlu diperhatikan adalah berapa banyak porsinya, apa lauk pendampingnya, serta apakah jumlah tersebut sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Setelah makan nasi, karbohidrat akan dicerna menjadi glukosa dan masuk ke dalam aliran darah. Tubuh kemudian melepaskan hormon insulin untuk membantu glukosa masuk ke sel dan digunakan sebagai energi.
Semakin besar jumlah karbohidrat yang dikonsumsi dalam satu waktu, semakin besar pula beban glukosa yang harus dikelola tubuh setelah makan. Respons gula darah setiap orang tentu bisa berbeda, tergantung jumlah makanan, jenis nasi, kombinasi lauk, aktivitas fisik, hingga kondisi metabolisme masing-masing.
Karena itu, satu kali makan nasi dalam porsi besar tidak otomatis menyebabkan diabetes. Namun, pola makan yang terus-menerus berlebihan, terutama bila disertai kurang aktivitas fisik, kelebihan berat badan, dan rendahnya asupan serat, dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik dalam jangka panjang.
Dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa konsumsi karbohidrat dalam jumlah sangat besar dapat meningkatkan kadar gula darah setelah makan. Jika pola makan berlebihan berlangsung terus-menerus, risiko resistensi insulin, prediabetes, hingga diabetes juga perlu diperhatikan.
Resistensi insulin terjadi ketika sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin. Akibatnya, tubuh perlu bekerja lebih keras untuk menjaga kadar gula darah tetap normal.
Yang sering membuat kondisi ini tidak disadari adalah gangguan metabolisme pada tahap awal belum tentu menimbulkan gejala yang jelas. Seseorang masih bisa merasa sehat meskipun pola makannya sudah perlu diperbaiki.
Ketika sebagian besar piring dipenuhi nasi, ruang untuk protein, sayuran, dan sumber zat gizi lainnya otomatis menjadi lebih sedikit.
Padahal, tubuh tidak hanya membutuhkan karbohidrat. Protein dibutuhkan untuk mempertahankan dan memperbaiki jaringan tubuh, sedangkan sayuran dan buah membantu memenuhi kebutuhan serat, vitamin, serta mineral.
Kombinasi protein dan serat juga dapat membantu membuat rasa kenyang bertahan lebih lama. Jadi, menambah nasi bukan satu-satunya cara agar makan terasa lebih mengenyangkan.
Tidak ada satu ukuran porsi nasi yang cocok untuk semua orang. Kebutuhan energi seseorang dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, ukuran tubuh, tingkat aktivitas fisik, kondisi kesehatan, serta kebutuhan khusus lainnya.
Sebagai panduan sederhana, Kementerian Kesehatan melalui konsep Isi Piringku menganjurkan agar dalam satu kali makan, sekitar separuh piring terdiri dari sayur dan buah, sedangkan separuh lainnya diisi makanan pokok dan lauk sumber protein.
Artinya, nasi tetap boleh ada di piring. Namun, idealnya jangan sampai seluruh piring hampir hanya berisi nasi.
Takut gula darah naik bukan berarti harus menghilangkan nasi sama sekali. Nasi masih dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat selama jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan dan dikombinasikan dengan lauk yang beragam.
Daripada fokus pada larangan makan nasi, lebih bermanfaat untuk mulai melihat komposisi satu piring secara keseluruhan: apakah ada sumber protein, cukup sayuran, dan porsi karbohidrat yang proporsional?
Bagi Millway, pola makan sehat bukan tentang menghindari satu jenis makanan. Yang lebih penting adalah belajar mengenali kebutuhan tubuh dan membangun kebiasaan makan yang seimbang, realistis, serta bisa dijalankan dalam jangka panjang.
Sumber: detikHealth (2026); Kementerian Kesehatan RI – Isi Piringku; American Diabetes Association.