Jus tomat mungkin lebih sering dikenal sebagai minuman segar atau pelengkap makanan. Namun, kandungan zat gizi di dalam tomat juga membuatnya banyak diteliti terkait potensinya dalam membantu mengendalikan tekanan darah.
Sebuah kajian yang diterbitkan dalam Student Journal of Nutrition membahas pengaruh pemberian buah tomat terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi. Kandungan kalium dan likopen menjadi dua komponen yang banyak dikaitkan dengan potensi manfaat tersebut.
Lalu, apakah rutin mengonsumsi jus tomat benar-benar bisa membantu menurunkan tekanan darah?
Tomat merupakan salah satu sumber likopen, yaitu senyawa antioksidan yang memberikan warna merah pada tomat. Berdasarkan kajian tersebut, kadar likopen pada buah tomat merah disebut sekitar 4.600 mikrogram per 100 gram.
Likopen memiliki aktivitas antioksidan yang membantu melawan radikal bebas. Dalam kajian tersebut, efek antiinflamasi dari antioksidan di dalam likopen juga dikaitkan dengan perlindungan sel dari kerusakan yang dapat berkontribusi terhadap proses aterosklerosis.
Aterosklerosis merupakan kondisi ketika terjadi penumpukan plak dan perubahan pada pembuluh darah yang dapat memengaruhi aliran darah serta berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah.
Selain likopen, kandungan kalium dalam tomat juga menjadi salah satu komponen yang dikaitkan dengan pengendalian tekanan darah.
Menurut penelitian Lavenia dan Nurdin (2015) yang dikutip dalam kajian tersebut, kalium memiliki peran dalam membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Kalium berperan dalam keseimbangan cairan tubuh dan dapat memengaruhi pembuluh darah. Dalam kajian tersebut, asupan kalium dikaitkan dengan efek pelebaran pembuluh darah dan penurunan resistensi perifer, yang pada akhirnya dapat mendukung pengendalian tekanan darah.
Berdasarkan kajian literatur yang dipaparkan dalam Student Journal of Nutrition, pemberian tomat atau jus tomat berpotensi digunakan sebagai salah satu pendekatan nonfarmakologis untuk membantu mengendalikan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Potensi tersebut terutama dikaitkan dengan kandungan kalium dan likopen dalam tomat. Kajian tersebut juga mengutip penelitian Hidayah dan rekan (2018) yang menyebutkan potensi efek diuretik jus tomat sebagai salah satu mekanisme yang mungkin berperan dalam pengendalian tekanan darah.
Namun, jus tomat sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti obat hipertensi atau terapi yang telah diberikan oleh tenaga kesehatan. Manfaatnya lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari pola makan dan gaya hidup sehat untuk mendukung pengendalian tekanan darah.
Tekanan darah dipengaruhi oleh banyak faktor. Karena itu, mengandalkan satu jenis makanan atau minuman saja tidak cukup untuk mengendalikan hipertensi.
Berdasarkan kajian tersebut, beberapa kebiasaan yang juga perlu diperhatikan antara lain:
Jus tomat dapat menjadi salah satu cara untuk memasukkan tomat ke dalam pola makan sehari-hari. Berdasarkan kajian yang tersedia, kandungan kalium dan likopen di dalam tomat berpotensi mendukung pengendalian tekanan darah.
Namun, manfaat tersebut tetap perlu dilihat sebagai bagian dari pola hidup sehat secara keseluruhan, bukan sebagai terapi tunggal untuk hipertensi. Jika memiliki tekanan darah tinggi dan sedang menjalani pengobatan, jangan menghentikan atau mengganti obat dengan jus tomat tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Sobat Millway, mulai dari pilihan sederhana seperti memperbanyak sayur dan buah, menjaga asupan garam, serta rutin bergerak dapat menjadi bagian dari langkah menjaga tekanan darah dan mendukung perjalanan Unlock Your Best Life.
Sumber: Pengaruh Pemberian Buah Tomat (Solanum Lycopersicum) terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi. Student Journal of Nutrition, Vol. 1, Edisi 1, Oktober 2022, hlm. 33–40. https://sjn.poltekkes-mataram.id/index.php/home/