Unduh App
Beranda
Informasi

Voucher & Diskon

Acara & Kegiatan

Knowledge Hub

Tentang Kami

Tentang Millway

Manfaat Menjadi Member

Tanya Jawab

Hubungi Kami

Kebijakan Privasi

Bantuan Dokter

Janji Temu Dokter

Tanya Dokter

Produk
Vila & Apt.
Tiket
Mitra
Akun Ku
Masuk
Daftar
Detox

Terpapar Abu Vulkanik Setelah Erupsi? Kenali Risiko ISPA dan Cara Melindungi Diri

Ditulis oleh Millway Wellness Team • 06 Sep 2026 (Minggu.)

Erupsi gunung tidak hanya berdampak pada lingkungan sekitar, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah paparan abu vulkanik, terutama ketika partikel halusnya terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.

Abu vulkanik dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Pada sebagian orang, paparan ini dapat memicu batuk, sesak, iritasi mata, hingga memperburuk gangguan pernapasan yang sudah ada.

Karena itu, setelah erupsi penting untuk mengurangi paparan abu dan mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan sejak dini.

Kenapa Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Pernapasan?

Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan dan material vulkanik berukuran sangat kecil. Partikel yang cukup halus dapat terbawa udara dan terhirup ketika seseorang bernapas.

Paparan tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga menimbulkan keluhan seperti hidung dan tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk, atau sesak.

Risikonya dapat lebih besar pada anak-anak, lansia, serta orang dengan asma, penyakit paru kronis, atau kondisi kesehatan lain yang memengaruhi sistem pernapasan.

Apakah Abu Vulkanik Bisa Menyebabkan ISPA?

Paparan abu vulkanik dapat meningkatkan iritasi dan gangguan pada saluran pernapasan. Keluhan seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan sesak dapat menyerupai gejala infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.

Namun, perlu dipahami bahwa ISPA sendiri merupakan infeksi pada saluran pernapasan yang umumnya disebabkan oleh virus atau bakteri. Abu vulkanik bukan penyebab infeksi tersebut secara langsung, tetapi paparan partikel dapat memperburuk iritasi dan membuat saluran pernapasan lebih rentan mengalami gangguan.

Gejala yang Perlu Diperhatikan

Setelah terpapar abu vulkanik, beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:

  • Batuk.
  • Tenggorokan terasa kering atau sakit.
  • Hidung terasa perih atau tersumbat.
  • Sesak atau napas terasa lebih berat.
  • Mata merah, perih, atau berair.
  • Kulit terasa kering atau iritasi setelah terkena abu.

Keluhan pada sebagian orang dapat bersifat ringan dan membaik setelah paparan berkurang. Namun, gejala yang berat atau terus memburuk perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan.

Gunakan Masker Saat Berada di Area Berabu

Salah satu cara penting untuk mengurangi paparan adalah menggunakan masker ketika berada di luar rumah atau di area yang masih terdapat abu beterbangan.

Masker yang memiliki kemampuan filtrasi partikel yang baik dapat membantu mengurangi jumlah partikel halus yang terhirup. Pastikan masker terpasang dengan baik dan menutupi hidung serta mulut.

Jika tidak perlu keluar rumah, kurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk atau abu masih banyak beterbangan.

Lindungi Mata dan Kulit

Abu vulkanik tidak hanya dapat mengganggu saluran pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

Jika harus berada di luar ruangan, gunakan kacamata pelindung untuk mengurangi kontak langsung dengan mata dan pilih pakaian yang menutupi kulit.

Hindari menggosok mata ketika terkena abu. Bilas dengan air bersih jika mata terasa perih atau berdebu.

Jaga Rumah agar Tidak Banyak Abu Masuk

Tutup pintu dan jendela ketika abu masih beterbangan. Jika tersedia, gunakan penyaring udara atau ventilasi yang dapat membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

Saat membersihkan abu, hindari menyapunya dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan. Basahi permukaan secara perlahan sebelum dibersihkan agar debu tidak mudah terangkat ke udara.

Cukupi Cairan dan Jaga Kondisi Tubuh

Paparan abu dapat membuat tenggorokan terasa kering atau tidak nyaman. Cukupi kebutuhan cairan dengan air putih untuk membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi.

Istirahat yang cukup, makan dengan gizi seimbang, dan hindari asap rokok juga penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh dan kesehatan saluran pernapasan selama masa setelah erupsi.

Siapa yang Perlu Lebih Berhati-hati?

Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami keluhan akibat paparan abu vulkanik, antara lain:

  • Anak-anak.
  • Lansia.
  • Orang dengan asma.
  • Orang dengan penyakit paru kronis.
  • Orang dengan penyakit jantung atau kondisi kesehatan tertentu.

Kelompok tersebut sebaiknya membatasi paparan dan mengikuti arahan tenaga kesehatan jika sudah memiliki pengobatan rutin untuk kondisi tertentu.

Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?

Segera cari bantuan medis jika muncul sesak berat, napas sangat cepat, nyeri dada, bibir tampak kebiruan, penurunan kesadaran, atau keluhan pernapasan memburuk dengan cepat.

Pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan jika batuk, demam, sakit tenggorokan, atau keluhan lain berlangsung terus-menerus dan tidak membaik.

Jangan Tunggu Gejala Berat untuk Mulai Melindungi Diri

Dampak abu vulkanik pada kesehatan dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, langkah pencegahan tetap penting meskipun belum muncul keluhan.

Menggunakan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menjaga kebersihan rumah, melindungi mata dan kulit, serta memantau kondisi tubuh dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan setelah erupsi.

Sobat Millway, menjaga kesehatan setelah bencana bukan hanya soal menghindari paparan, tetapi juga mengenali respons tubuh sejak dini. Lindungi diri dan orang-orang di sekitar agar tetap sehat dalam perjalanan Unlock Your Best Life.

Sumber: World Health Organization (WHO). Volcanic Ash and Health; Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Volcanic Eruptions and Your Health.

Baca Juga

Keranjang Belanja