Erupsi gunung tidak hanya berdampak pada lingkungan sekitar, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah paparan abu vulkanik, terutama ketika partikel halusnya terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.
Abu vulkanik dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Pada sebagian orang, paparan ini dapat memicu batuk, sesak, iritasi mata, hingga memperburuk gangguan pernapasan yang sudah ada.
Karena itu, setelah erupsi penting untuk mengurangi paparan abu dan mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan sejak dini.
Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan dan material vulkanik berukuran sangat kecil. Partikel yang cukup halus dapat terbawa udara dan terhirup ketika seseorang bernapas.
Paparan tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga menimbulkan keluhan seperti hidung dan tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk, atau sesak.
Risikonya dapat lebih besar pada anak-anak, lansia, serta orang dengan asma, penyakit paru kronis, atau kondisi kesehatan lain yang memengaruhi sistem pernapasan.
Paparan abu vulkanik dapat meningkatkan iritasi dan gangguan pada saluran pernapasan. Keluhan seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan sesak dapat menyerupai gejala infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
Namun, perlu dipahami bahwa ISPA sendiri merupakan infeksi pada saluran pernapasan yang umumnya disebabkan oleh virus atau bakteri. Abu vulkanik bukan penyebab infeksi tersebut secara langsung, tetapi paparan partikel dapat memperburuk iritasi dan membuat saluran pernapasan lebih rentan mengalami gangguan.
Setelah terpapar abu vulkanik, beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:
Keluhan pada sebagian orang dapat bersifat ringan dan membaik setelah paparan berkurang. Namun, gejala yang berat atau terus memburuk perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan.
Salah satu cara penting untuk mengurangi paparan adalah menggunakan masker ketika berada di luar rumah atau di area yang masih terdapat abu beterbangan.
Masker yang memiliki kemampuan filtrasi partikel yang baik dapat membantu mengurangi jumlah partikel halus yang terhirup. Pastikan masker terpasang dengan baik dan menutupi hidung serta mulut.
Jika tidak perlu keluar rumah, kurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk atau abu masih banyak beterbangan.
Abu vulkanik tidak hanya dapat mengganggu saluran pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.
Jika harus berada di luar ruangan, gunakan kacamata pelindung untuk mengurangi kontak langsung dengan mata dan pilih pakaian yang menutupi kulit.
Hindari menggosok mata ketika terkena abu. Bilas dengan air bersih jika mata terasa perih atau berdebu.
Tutup pintu dan jendela ketika abu masih beterbangan. Jika tersedia, gunakan penyaring udara atau ventilasi yang dapat membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
Saat membersihkan abu, hindari menyapunya dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan. Basahi permukaan secara perlahan sebelum dibersihkan agar debu tidak mudah terangkat ke udara.
Paparan abu dapat membuat tenggorokan terasa kering atau tidak nyaman. Cukupi kebutuhan cairan dengan air putih untuk membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi.
Istirahat yang cukup, makan dengan gizi seimbang, dan hindari asap rokok juga penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh dan kesehatan saluran pernapasan selama masa setelah erupsi.
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami keluhan akibat paparan abu vulkanik, antara lain:
Kelompok tersebut sebaiknya membatasi paparan dan mengikuti arahan tenaga kesehatan jika sudah memiliki pengobatan rutin untuk kondisi tertentu.
Segera cari bantuan medis jika muncul sesak berat, napas sangat cepat, nyeri dada, bibir tampak kebiruan, penurunan kesadaran, atau keluhan pernapasan memburuk dengan cepat.
Pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan jika batuk, demam, sakit tenggorokan, atau keluhan lain berlangsung terus-menerus dan tidak membaik.
Dampak abu vulkanik pada kesehatan dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, langkah pencegahan tetap penting meskipun belum muncul keluhan.
Menggunakan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menjaga kebersihan rumah, melindungi mata dan kulit, serta memantau kondisi tubuh dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan setelah erupsi.
Sobat Millway, menjaga kesehatan setelah bencana bukan hanya soal menghindari paparan, tetapi juga mengenali respons tubuh sejak dini. Lindungi diri dan orang-orang di sekitar agar tetap sehat dalam perjalanan Unlock Your Best Life.
Sumber: World Health Organization (WHO). Volcanic Ash and Health; Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Volcanic Eruptions and Your Health.