Gula dan garam hampir selalu ada dalam makanan sehari-hari. Masalahnya, kita sering hanya menghitung gula atau garam yang ditambahkan sendiri, padahal keduanya juga bisa berasal dari saus, bumbu, camilan, minuman kemasan, hingga makanan olahan.
Karena itu, asupan gula dan garam bisa jauh lebih tinggi dari yang kita sadari. Dalam jangka panjang, konsumsi berlebihan dapat berdampak pada kesehatan, mulai dari kenaikan berat badan, kerusakan gigi, hingga peningkatan risiko tekanan darah tinggi dan gangguan metabolik.
Lalu, sebenarnya berapa batas aman konsumsi gula dan garam, dan bagaimana cara menguranginya tanpa membuat pola makan terasa terlalu ketat?
World Health Organization (WHO) merekomendasikan konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari untuk orang dewasa, atau kira-kira setara dengan satu sendok teh.
Namun, satu sendok teh tersebut bukan hanya garam dapur yang kita tambahkan saat memasak. Natrium juga dapat berasal dari kecap, saus ikan, saus sambal, saus tomat, kaldu bubuk, makanan ringan, makanan instan, hingga berbagai produk olahan lainnya.
Artinya, meskipun merasa hanya menambahkan sedikit garam, asupan natrium sehari-hari tetap bisa tinggi jika sering mengonsumsi makanan yang sudah mengandung banyak natrium.
Natrium sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk membantu menjaga keseimbangan cairan, fungsi saraf, dan kontraksi otot. Namun, konsumsi yang terlalu tinggi dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan dan berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah.
Tekanan darah tinggi sendiri merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Karena itu, membatasi garam bukan berarti tubuh tidak membutuhkan natrium, tetapi menjaga agar asupannya tetap sesuai kebutuhan.
Salah satu hal yang membuat asupan natrium mudah berlebihan adalah karena sumbernya tidak selalu terasa sangat asin.
Beberapa produk yang perlu diperhatikan antara lain:
WHO menyarankan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari.
Untuk menjaga rasa tetap enak, gunakan alternatif seperti bawang, rempah, jeruk nipis, lada, cabai, daun aromatik, atau bumbu alami lainnya.
WHO menganjurkan agar asupan free sugars dikurangi. Untuk manfaat kesehatan tambahan, konsumsinya dianjurkan kurang dari 5% dari total asupan energi harian.
Free sugars mencakup gula yang ditambahkan ke makanan dan minuman, serta gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus buah.
Jadi, yang perlu diperhatikan bukan hanya gula pasir yang dimasukkan ke kopi atau teh, tetapi juga gula yang berasal dari makanan dan minuman lain sepanjang hari.
Buah juga mengandung gula, tetapi buah utuh memiliki serat, vitamin, mineral, dan air. Kombinasi ini membuat proses pencernaannya berbeda dibandingkan minuman manis atau makanan tinggi gula tambahan.
Karena itu, membatasi gula bukan berarti harus menghindari semua buah. Fokus utama sebaiknya diberikan pada gula tambahan dan free sugars yang mudah dikonsumsi dalam jumlah besar.
WHO menjelaskan bahwa konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi dan kenaikan berat badan yang tidak sehat.
Jika makanan dan minuman tinggi gula dikonsumsi terus-menerus, asupan energi harian juga dapat meningkat. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan jika energi yang masuk terus melebihi kebutuhan tubuh.
Minuman manis juga menjadi salah satu sumber gula yang perlu diperhatikan karena mudah diminum dalam jumlah banyak tanpa memberikan rasa kenyang seperti makanan padat.
Gula tambahan tidak hanya terdapat pada kue, permen, dan makanan penutup.
Beberapa produk yang juga dapat menyumbang gula antara lain:
Mengurangi gula dapat dilakukan bertahap agar lebih mudah dipertahankan.
Salah satu cara paling praktis untuk mengontrol gula dan garam adalah membiasakan membaca informasi nilai gizi.
Perhatikan kandungan natrium untuk membantu mengontrol asupan garam, serta jumlah gula dalam produk. Dengan membandingkan beberapa produk sejenis, Sobat Millway dapat memilih opsi dengan kandungan gula atau natrium yang lebih rendah.
Jangan hanya terpaku pada klaim depan kemasan seperti “lebih sehat”, “rendah lemak”, atau “alami”. Informasi nilai gizi tetap menjadi bagian penting untuk membantu membuat pilihan yang lebih terukur.
Tujuan utama bukan membuat semua makanan menjadi hambar atau menghilangkan seluruh makanan manis dari pola makan.
Yang lebih realistis adalah mengurangi asupan secara bertahap dan membangun kebiasaan yang dapat dipertahankan. Seiring waktu, lidah juga dapat beradaptasi dengan rasa yang tidak terlalu asin atau manis.
WHO merekomendasikan konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari dan menganjurkan pembatasan free sugars hingga kurang dari 5% total asupan energi untuk manfaat kesehatan tambahan.
Namun, menjaga konsumsi gula dan garam bukan hanya soal menghitung sendok yang digunakan di rumah. Perhatikan juga sumber dari makanan kemasan, bumbu, saus, camilan, dan minuman sehari-hari.
Sobat Millway, mulai dari perubahan sederhana seperti mengurangi tambahan gula, memilih bumbu lebih bijak, membaca label makanan, dan lebih sering memilih makanan utuh. Kebiasaan kecil yang konsisten dapat membantu membangun pola makan yang lebih sehat dalam perjalanan Unlock Your Best Life.
Sumber: World Health Organization (WHO). Consume Less Salt and Sugar.