Unduh App
Beranda
Informasi

Voucher & Diskon

Acara & Kegiatan

Knowledge Hub

Tentang Kami

Tentang Millway

Manfaat Menjadi Member

Tanya Jawab

Hubungi Kami

Kebijakan Privasi

Bantuan Dokter

Janji Temu Dokter

Tanya Dokter

Produk
Vila & Apt.
Tiket
Mitra
Akun Ku
Masuk
Daftar
Weight loss

Nasi sebagai Sumber Energi, Tapi Seberapa Banyak yang Dibutuhkan Tubuh?

Ditulis oleh Millway Wellness Team • 10 Sep 2026 (Kamis.)

Buat sebagian orang, makan rasanya belum lengkap kalau nasinya belum banyak. Apalagi setelah seharian sekolah, bekerja, atau beraktivitas, sepiring nasi dengan porsi besar sering dianggap wajar karena terasa lebih mengenyangkan.

Nasi memang merupakan salah satu sumber karbohidrat yang penting bagi tubuh. Setelah dikonsumsi, karbohidrat akan dipecah menjadi glukosa yang digunakan sebagai sumber energi. Namun, ketika porsinya terlalu besar dan terus menjadi kebiasaan, komposisi makan bisa menjadi tidak seimbang.

Jadi, masalahnya bukan karena nasi harus dihindari. Yang perlu diperhatikan adalah berapa banyak porsinya, apa lauk pendampingnya, serta apakah jumlah tersebut sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Apa yang Terjadi Saat Makan Karbohidrat dalam Jumlah Besar?

Setelah makan nasi, karbohidrat akan dicerna menjadi glukosa dan masuk ke dalam aliran darah. Tubuh kemudian melepaskan hormon insulin untuk membantu glukosa masuk ke sel dan digunakan sebagai energi.

Semakin besar jumlah karbohidrat yang dikonsumsi dalam satu waktu, semakin besar pula beban glukosa yang harus dikelola tubuh setelah makan. Respons gula darah setiap orang tentu bisa berbeda, tergantung jumlah makanan, jenis nasi, kombinasi lauk, aktivitas fisik, hingga kondisi metabolisme masing-masing.

Karena itu, satu kali makan nasi dalam porsi besar tidak otomatis menyebabkan diabetes. Namun, pola makan yang terus-menerus berlebihan, terutama bila disertai kurang aktivitas fisik, kelebihan berat badan, dan rendahnya asupan serat, dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik dalam jangka panjang.

Kenapa Kalau Terus Dilakukan Bisa Jadi Masalah?

Dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa konsumsi karbohidrat dalam jumlah sangat besar dapat meningkatkan kadar gula darah setelah makan. Jika pola makan berlebihan berlangsung terus-menerus, risiko resistensi insulin, prediabetes, hingga diabetes juga perlu diperhatikan.

Resistensi insulin terjadi ketika sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin. Akibatnya, tubuh perlu bekerja lebih keras untuk menjaga kadar gula darah tetap normal.

Yang sering membuat kondisi ini tidak disadari adalah gangguan metabolisme pada tahap awal belum tentu menimbulkan gejala yang jelas. Seseorang masih bisa merasa sehat meskipun pola makannya sudah perlu diperbaiki.

Bukan Cuma soal Gula Darah, Piring Juga Bisa Jadi Tidak Seimbang

Ketika sebagian besar piring dipenuhi nasi, ruang untuk protein, sayuran, dan sumber zat gizi lainnya otomatis menjadi lebih sedikit.

Padahal, tubuh tidak hanya membutuhkan karbohidrat. Protein dibutuhkan untuk mempertahankan dan memperbaiki jaringan tubuh, sedangkan sayuran dan buah membantu memenuhi kebutuhan serat, vitamin, serta mineral.

Kombinasi protein dan serat juga dapat membantu membuat rasa kenyang bertahan lebih lama. Jadi, menambah nasi bukan satu-satunya cara agar makan terasa lebih mengenyangkan.

Lalu, Berapa Banyak Nasi yang Sebaiknya Dimakan?

Tidak ada satu ukuran porsi nasi yang cocok untuk semua orang. Kebutuhan energi seseorang dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, ukuran tubuh, tingkat aktivitas fisik, kondisi kesehatan, serta kebutuhan khusus lainnya.

Sebagai panduan sederhana, Kementerian Kesehatan melalui konsep Isi Piringku menganjurkan agar dalam satu kali makan, sekitar separuh piring terdiri dari sayur dan buah, sedangkan separuh lainnya diisi makanan pokok dan lauk sumber protein.

Artinya, nasi tetap boleh ada di piring. Namun, idealnya jangan sampai seluruh piring hampir hanya berisi nasi.

Kalau Terbiasa Makan Nasi Banyak, Coba Mulai dari Sini
  • Kurangi porsinya secara bertahap. Tidak perlu langsung memangkas nasi secara ekstrem. Kurangi sedikit demi sedikit sambil memperbaiki komposisi lauk.
  • Tambahkan protein. Lengkapi makan dengan ayam, ikan, telur, tahu, tempe, atau sumber protein lainnya agar komposisi makan lebih seimbang.
  • Perbanyak sayur. Serat membantu memberikan volume pada makanan sekaligus mendukung rasa kenyang.
  • Jangan menambah nasi hanya karena lauk masih tersisa. Coba perhatikan dulu apakah tubuh memang masih lapar atau hanya terbiasa menambah porsi.
  • Sesuaikan dengan aktivitas. Orang dengan aktivitas fisik tinggi dapat memiliki kebutuhan energi berbeda dibandingkan seseorang yang sebagian besar harinya dihabiskan dengan duduk.
  • Lihat pola makan seharian. Satu kali makan tidak menentukan kesehatan. Yang lebih penting adalah kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Nasi Nggak Perlu Jadi Musuh

Takut gula darah naik bukan berarti harus menghilangkan nasi sama sekali. Nasi masih dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat selama jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan dan dikombinasikan dengan lauk yang beragam.

Daripada fokus pada larangan makan nasi, lebih bermanfaat untuk mulai melihat komposisi satu piring secara keseluruhan: apakah ada sumber protein, cukup sayuran, dan porsi karbohidrat yang proporsional?

Bagi Millway, pola makan sehat bukan tentang menghindari satu jenis makanan. Yang lebih penting adalah belajar mengenali kebutuhan tubuh dan membangun kebiasaan makan yang seimbang, realistis, serta bisa dijalankan dalam jangka panjang.


Sumber: detikHealth (2026); Kementerian Kesehatan RI – Isi Piringku; American Diabetes Association.

Baca Juga

Keranjang Belanja